Isu SARA Merebak di Pilkada Toraja
Anggota DPD RI Sulawesi Selatan Sulsel, Litha Brent, dikabarkan akan mengumpulkan enam pasangan calon kepala daerah Tana Toraja. Hal ini dilakukan setelah dia melihat maraknya isu kampanye negatif yang berkembang menjelang hajatan lima tahunan ini.
Inisiatif tersebut diungkapkan salah seorang pengurus Organisasi Gombongan Santorayang, Alex Pallinggi, dalam jumpa pers di DPRD Sulsel, Kamis (29/4/2010).
Menurutnya, kampanye negatif jelang pilkada di Toraja itu merebak dengan beragam modus. Mulai dari selebaran tak bertuan, hasutan kepada masyarakat via SMS, hingga menyentuh pada hal-hal yang berbau SARA.
Alex mengatakan, jika hal tersebut tidak segera diantisipasi dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan dan benturan ditengah-tengah masyarakat sehingga mengganggu jalannya proses berdemokrasi yang telah berjalan di Toraja.
Dari ketiga modus tersebut, isu SARA posisinya semakin meruncing karena dinilai paling rawan dan mudah "meledak" setiap saat.
"Asalkan punya niatan untuk memajukan Toraja, siapapun bisa menjadi Bupati Tana Toraja tanpa perlu memandang suku ataupun agamanya," tegas anggota Fraksi Sulsel Bersatu DPRD Sulsel tersebut.
Berkembangnya isu semacam ini diyakininya dilakukan oleh oknum-oknum yang yang tidak bertanggung jawab dan mencoba memperkeruh jalannya proses demokrasi yang telah berlangsung di Toraja.
"Hingga saat ini sudah ada beberapa nama yang kami kantongi yang diduga kuat sebagai penyebar isu SARA ini," katanya.
Alex berharap melalui pertemuan yang akan difasilitasi Organisasi Gombongan Santorayang tersebut dapat melahirkan komitmen dari enam pasangan calon yang akan bertarung untuk menciptakan pilkada damai.
Alex pun menyampaikan pesan Litha kepada seluruh lapisan masyarakat Tana Toraja untuk tidak mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan isu-isu 'murahan' semacam itu.