Kamis, 17 Mei 2012
Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism


Kisah Inspiratif dari Obama dan Kennedy

Tribunnews.com - Sabtu, 29 Mei 2010 14:56 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Kisah Inspiratif  dari Obama dan Kennedy
Net
Net
KANTOR Berita BBC belum lama ini memberitakan bahwa laporan harta kekayaan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mencatat adanya pemasukan jutaan dolar dari royalti buku tahun lalu dan hadiah khusus senilai $1.600 -anjing keluarga, Bo. Uang royalti dari buku "Dreams From My Father dan Audacity of Hope" mencapai $1 juta dari masing-masing buku.

Bo, anjing air Portugis, yang diberikan mendiang Senator Edward Kennedy kepada keluarga Obama ditaksir bernilai $1.600 dalam formulir laporan keuangan Obama. Nilai medali dan sertifikat Hadiah Nobel Perdamaian Obama belum bisa dipastikan. Tapi, dia menyumbangkan uang Hadiah Nobel senilai $1,4 juta untuk lembaga sosial.

Jauh sebelum Obama, Presiden ke-35 Amerika Serikat, almarhum John Fitzgerald Kennedy, juga menulis beberapa buku, tapi buku karyanya yang sangat populer adalah "Profiles in Courage". Wajar jika kemudian untuk memperingati meninggalnya John F Kennedy yang tewas dibunuh dengan aksi penembakan di Dallas, Texas, 22 November 1963, diterbitkan kembali buku "Profiles in Courage" di tahun 1964, dengan kata pengantar dari adik almarhum, Robert Kennedy, yang juga tewas ditembak saat ia sedang berkampanye dalam pencalonan dirinya sebagai presiden, 5 Juli 1968.

Dalam kata pengantar edisi memorial "Profiles in Courage", Robert Kennedy mengatakan bahwa keberanian, ketegaran sikap adalah suatu kebajikan, suatu hal yang dikagumi oleh kakaknya, almarhum Presiden John F Kennedy. Dalam hidupnya, John F Kennedy selalu mencari orang-orang di berbagai bidang kegiatan yang menunjukkan keberanian, ketegaran sikap, orang-orang yang dapat diandalkan dalam memperjuangkan suatu tujuan, suatu ideal.

Robert Kennedy sendiri juga merasa melihat adanya keberanian itu, keteguhan sikap itu, dalam diri kakaknya. Ia mengatakan, paling tidak, setengah hari dari hari-hari John sepanjang hidupnya di muka bumi ini, adalah hari-hari penderitaan fisik luar biasa. Berbagai jenis penyakit dideritanya sejak kecil. Salah satunya yang terberat adalah sakit punggungnya akibat perang di Pasifik, ketika ia berdinas sebagai perwira Angkatan Laut dalam Perang Dunia II. Lama ia dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut Chelsea, dan akhirnya ia harus menjalani operasi tulang punggung di bulan Oktober 1954 dan Februari 1955.

Ketika berkampanye di tahun 1958, ia harus berjalan dengan tongkat penopang, dan ketika ia melakukan perjalanan keliling dunia di tahun 1951 (bersama Robert Kennedy), ia jatuh sakit, sehingga terpaksa dirawat di rumah sakit militer Okinawa, karena panasnya sangat tinggi (106 derajat F). Tak seorang pun mengira ia mampu bertahan hidup.

Kembali kepada Obama. Dalam bukunya, Obama menuturkan secara lengkap masa-masa awal kehidupannya. Dipaparkannya masa kecilnya di Hawai, kehidupannya di Jakarta bersama ayah tirinya, Lolo Soetoro, dan pengalamannya mengejar layang-layang bersama anak-anak kampung. Masa kuliahnya yang penuh gejolak dan awal ia terjun menjadi aktivis sosial di Chicago. Digambarkannya pula perjalanannya mencari akar budayanya di Afrika, di tengah-tengah kerabatnya yang Muslim. Ternyata, jalan hidupnya tak semulus yang dibayangkan orang. Sebagai anak dari ayah kulit hitam Kenya dan ibu kulit putih Amerika, Obama sempat kehilangan jati diri. Ia merasakan amarah dan frustrasi yang dirasakan orang-orang kulit hitam akibat diskriminasi dan marjinalisasi di AS.

Namun, ia tak mampu meluapkan amarahnya kepada orang kulit putih, karena ia selalu teringat akan ibunya, seorang kulit putih yang amat menyayanginya. Obama kehilangan impian, hidup tanpa semangat dan sempat mengakrabi madat dan minuman keras. Namun, akhirnya ia mampu menemukan kembali tujuan hidup dengan merengkuh semangat persaudaraan yang yang melintasi warna kulit dan bangsa, semangat yang dulu menyatukan ibu dan ayahnya.

Buku ini menggambarkan perjalanan Obama menemukan kembali impian yang diwariskan ayahnya, seorang anak miskin kulit hitam dari desa terpencil Kenya yang mengejar pendidikan di Amerika. Dan impian itulah yang memotivasinya untuk terus melangkah maju meraih cita-cita setinggi mungkin. Dari seorang aktivis, menjadi senator kulit hitam satu-satunya, dan akhirnya menjadi Presiden kulit hitam pertama dalam sejarah panjang Amerika Serikat. Sebuah buku inspiratif yang menggambarkan kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, dan toleransi.(*)

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup