TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
Susno Kecewa Tim Independen tak Seret Jenderal
Tribunnews.com - Minggu, 25 Juli 2010 17:13 WIB

TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Mantan Kabareskrim, Komjen Pol Susno Duadji (tengah) dikawal ketat usai pelimpahan berkas P21 di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (7/7) Kasus Komjen Pol Susno Duadji telah dilimpahkan ke Kejari berikut berikut berkas perkaranya dalam kasus dugaan suap Rp 500 juta dari tersangka Sjahril Djohan. Suap itu diduga diterima Susno dari Sjahril untuk mengurusi PT Sal. (TRIBUNNEWS.COM/Bian Harnansa)
Mereka menamakan dirinya tim independen tapi mereka semuanya berasal dari unsur kepolisian
M Assegaf, Penasihat hukum Susno
Berita Terkait: Penahanan Susno
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tersangka kasus dugaan suap dan atau gratifikasi penanganan perkara Arowana dan korupsi dana anggaran pengamanan Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jawa Barat, Komjen Pol Susno Duadji kecewa atas pembubaran tim independen. Apalagi, tim tersebut selama keberadaannya mengusut dugaan praktek mafia hukum Gayus Tambunan tak dapat menyeret nama-nama jenderal dan jaksa yang diduga terlibat dalam praktek mafia hukum.
"Ya dia kecewalah. Bagaimana pun itu yang blow up (mengungkap ke permukaan) pertama kali pak Susno. Tapi ternyata dalam perkembangannya setelah didesak oleh publik, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan publik," kata penasihat hukum Susno, M Assegaf di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (25/7/2010).
Menurut Susno, seperti dituturkan Assegaf, masih banyak kebenaran dalam praktek mafia hukum itu yang ditutup-tutupi oleh Mabes Polri dan tim independennya. Pun demikian dengan cara penanganan mereka (tim independen) yang terkesan tertutup.
"Masih terkesan ada yang ditutup-tutupin. Sebagian tidak terbuka," tuturnya.
Assegaf pada kesempatan itu kembali mempertanyakan status dan penamaan independen pada tim yang dibentuk secara khusus oleh Kapolri guna menangani kasus mafia hukum Gayus Tambunan.
"Mereka menamakan dirinya tim independen tapi mereka semuanya berasal dari unsur kepolisian semuanya kan. Padahal masalah yang ditiup oleh Susno adalah masalah yang menyangkut orang-orang dari pihak kepolisian. Sehingga wajar kalau kemudian dipertanyakan apakah betul mereka independen? Apakah layak disebut tim independen? Biasanya tim yang disebut independen itu terdiri dari beberapa institusi, ada KPK, ada jaksa, ada kayak tim 8 nya yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution itu, Bibit-Chandra itu. Ada dosen ada apa-apanya. Nah itu betul-betul kelihatan independensinya," ucapnya.
Meski kecewa terhadap tim independen dan pembubarannya, Susno masih yakin kalau penanganan kasus mafia hukum Gayus Tambunan itu masih akan berlanjut. "Kan tidak harus berhenti di sini, namanya tim independen bubar kan bisa diambil oleh bareskrim lagi. Tapi kalau memang mereka ada semangat untuk ke sana," tandas Assegaf. (*)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tersangka kasus dugaan suap dan atau gratifikasi penanganan perkara Arowana dan korupsi dana anggaran pengamanan Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jawa Barat, Komjen Pol Susno Duadji kecewa atas pembubaran tim independen. Apalagi, tim tersebut selama keberadaannya mengusut dugaan praktek mafia hukum Gayus Tambunan tak dapat menyeret nama-nama jenderal dan jaksa yang diduga terlibat dalam praktek mafia hukum.
"Ya dia kecewalah. Bagaimana pun itu yang blow up (mengungkap ke permukaan) pertama kali pak Susno. Tapi ternyata dalam perkembangannya setelah didesak oleh publik, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan publik," kata penasihat hukum Susno, M Assegaf di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (25/7/2010).
Menurut Susno, seperti dituturkan Assegaf, masih banyak kebenaran dalam praktek mafia hukum itu yang ditutup-tutupi oleh Mabes Polri dan tim independennya. Pun demikian dengan cara penanganan mereka (tim independen) yang terkesan tertutup.
"Masih terkesan ada yang ditutup-tutupin. Sebagian tidak terbuka," tuturnya.
Assegaf pada kesempatan itu kembali mempertanyakan status dan penamaan independen pada tim yang dibentuk secara khusus oleh Kapolri guna menangani kasus mafia hukum Gayus Tambunan.
"Mereka menamakan dirinya tim independen tapi mereka semuanya berasal dari unsur kepolisian semuanya kan. Padahal masalah yang ditiup oleh Susno adalah masalah yang menyangkut orang-orang dari pihak kepolisian. Sehingga wajar kalau kemudian dipertanyakan apakah betul mereka independen? Apakah layak disebut tim independen? Biasanya tim yang disebut independen itu terdiri dari beberapa institusi, ada KPK, ada jaksa, ada kayak tim 8 nya yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution itu, Bibit-Chandra itu. Ada dosen ada apa-apanya. Nah itu betul-betul kelihatan independensinya," ucapnya.
Meski kecewa terhadap tim independen dan pembubarannya, Susno masih yakin kalau penanganan kasus mafia hukum Gayus Tambunan itu masih akan berlanjut. "Kan tidak harus berhenti di sini, namanya tim independen bubar kan bisa diambil oleh bareskrim lagi. Tapi kalau memang mereka ada semangat untuk ke sana," tandas Assegaf. (*)
Editor: Harismanto
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Nasional Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

