Selasa, 9 Juni 2026

Wartawan Kompas Meninggal

Dokter: Syaiful Meninggal karena Sakit

Pihak kedokteran dan kesehatan Polda Kaltim untuk sementara memastikan bahwa M Syaiful meninggal karena penyakit lama.

Tayang:
Editor: Anwar Sadat Guna
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN — Pihak kedokteran dan kesehatan Polda Kaltim untuk sementara memastikan bahwa M Syaiful meninggal karena penyakit lama.

"Hasil sementara, korban meninggal karena penyakit yang sudah lama dia derita. Tidak ada tanda kekerasan," kata Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Kaltim Kombes dr Djoko Ismoyo dalam konferesi pers di RS Bhayangkara, Senin (26/7/2010) malam.

Dalam konferensi pers yang juga dihadiri Kepala Polresta Balikpapan Ajun Komisaris Besar A Rafik itu, Djoko sekaligus menepis pemberitaan yang dilansir sejumlah media di Jakarta sepanjang hari ini. "Informasi yang kami dapat, korban sudah lama mengidap berbagai penyakit. Salah satunya adalah darah tinggi," katanya.

Dari pemeriksaan diketahui bahwa memang ada pendarahan di otak Syaiful karena pembuluh darah pecah. Lalu ada juga penggumpalan di jantung dan ginjal. "Itu artinya korban sudah lama mengonsumsi obat," kata Djoko.

Mengenai busa di mulut ketika Syaiful ditemukan, Djoko menyatakan bahwa hal itu biasa terjadi pada korban yang mengalami serangan jantung akibat pembuluh darah pecah. Perdarahan hebat menyebabkan lidah Syaiful tertarik ke belakang sehingga menyumbat tenggorokan. "Akibatnya, oksigen tidak bisa masuk dan korban meninggal dengan busa di mulut," kata Djoko.

Informasi yang didapat, Syaiful memang lama mengidap tekanan darah tinggi. Di tasnya selalu tersedia obat-obatan untuk darah tinggi. Menurut Djoko, tekanan darah Syaiful biasanya sekitar 170. "Pada saat serangan bisa saja 200 atau lebih," kata Djoko.

Mengenai dugaan bahwa pemicu serangan adalah obat-obatan yang diminum sebelum meninggal, Djoko masih menunggu hasil pemeriksaan dari Cabang Forensik Polri di Surabaya.

Dibawa ke Kandangan

Sementara itu, jenazah Syaiful saat ini tengah disembahyangkan di kamar jenazah RS Bhayangkara. Rencananya, malam ini juga jenazah akan dibawa ke kampung halamannya di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Perjalanan darat dari Balikpapan ke Kandangan membutuhkan waktu sekitar tujuh jam.

Almarhum ditemukan pertamakali oleh rekannya, Wahyu Hidayat, mantan wartawan Trans TV di Kaltim. Saat ditemukan, tubuhnya kaku, tangan kanannya masih menggenggam erat remote control televisi, sementara mulutnya dipenuhi busa. Korban bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam dan sarung.

Wahyu mengaku menerima telepon dari istri Almarhum, Senin (26/7/2010), pagi karena sejak Sabtu (24/7/2010) Syaifullah sulit dihubungi.

"Akhirnya saya langsung ke rumahnya. Saya lihat motor dan mobilnya ada di garasi. Saya ketok pintu rumah tapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya masuk. Ternyata pintu rumah tidak terkunci, sementara anak kunci tergantung bagian di luar," tutur Wahyu.

Di rumah almarhum juga ditemukan sejumlah obat seperti bodrex, konidin, dan sirup lemon ABC. Di TKP hadir Pimpinan Perusahaan Tribun Kaltim Zainal Abidin, Pemimpin Redaksi Achmad Subechi, Redaktur Pelaksana Priyo Suwarno dan Kapolresta Balikpapan A Rafik serta sejumlah wartawan.

Sejumlah kabar merebak di balik kematian misterius Muhammad Syaifullah. Ada dugaan ia keracunan. Kabar lain yang beredar menyebutkan, kematian Syaifullah terkait pemberitaannya soal kejanggalan dalam bisnis batubara di Kalimantan.

Syaifullah bergabung ke Kompas awal 2007. Ia meninggalkan satu istri dan dua anak. Syaifullah atau akrab disapa Ful atau Ipul dikenal sebagai wartawan yang bersemangat, rajin, dan peduli pada lingkungan.

Banyak tulisannya yang berisi keprihatinan tentang kerusakan alam di Kalimantan.

Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Syaifullah merupakan putra kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel, dan ia merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved