Minggu, 5 Februari 2012
Tribunnews.com

Polri Periksa Makanan dan Obat Milik Syaifullah

Tribunnews.com - Selasa, 27 Juli 2010 18:46 WIB
Share
Email
Print
  + Text 
Polri Periksa Makanan dan Obat Milik Syaifullah
TRIBUNKALTIM
Isnainijah, Istri almarhum wartawan Kompas yang juga Kepala Biro Kompas Kalimantan, Muhammad Syaifullah, saat melihat jenazah suaminya, Senin (26/7/2010). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Polri akan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap beberapa makanan dan obat-obatan yang ditemukan di sekitar lokasi kematian M Syaifullah, Kepala Biro Kompas Kalimantan di Balikpapan.

Sebelumnya, Disdokkes Kepolisian Daerah Kalimantan Timur telah mengungkap penyebab kematian wartawan Ipul, panggilan akrab almarhum. Namun, untuk menguatkan hasil otopsi yang menyebutkan bahwa Ipul meninggal karena Hipertensi, akan dilakukan pendalaman lagi.

"Informasi dari teman saya yang tadi malam ada di sana, baik vitamin, obat-obatan, maupun makanan yang masih ada di sana (TKP) akan dibawa ke laboratorium," kata Kabid Penum Polri, Kombes Pol Marwoto Soeto di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/7).

"Dan mungkin organ-organnya juga yang akan diperiksa di laboratorium di Surabaya supaya bisa dipastikan penyebab kematiannya," tambahnya.

Organ-organ yang diperiksa seperti apa? "Yang bisa menyebabkan kematian, seperti limpa, jantung, dan sebagainya. Tapi yang jelas, kan sudah tahu dari Polda Kalimantan Timur bahwa ini akibat pecahnya pembuluh, akibat hipertensi," jelasnya.

Menurut Marwoto, Polri meminta seluruh lapisan masyarakat khususnya para awak media untuk tidak lagi menduga-duga penyebab kematian Syaifullah.

"Polri telah memeriksa saksi-saksi, termasuk saksi kunci yaitu teman dekat almarhum yang mantan wartawan, Wahyu serta keluarga guna mencari tahu penyebab kematian Ipul," ujarnya.

Terkait adanya indikasi penganiayaan terhadap Ipul, karena llebam di sekujur tubuh dan wajahnya, Marwoto mengatakan tekanan darah tinggi memungkinkan hal itu terjadi pada korban. "Itu biasa. Tapi nanti enam jam berikutnya sudah hilang," tutupnya. (*)

Penulis: Vanroy Pakpahan  |  Editor: Iwan Apriansyah
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup