Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pria
itu mengenakan tiga lapis kaus kaki setiap harinya, ia mengaku hal itu
untuk mencegah cidera terhadap kakinya. Namun kenyataannya, dua kukunya
nyaris copot.
Ketika ia membuka tiga pasang kaus kakinya itu, bau khas
dari kakinya yang telah berjalan berkilo-kilometerpu n menyerebak.
Tampak balutan plester dan perban menghiasi kaki
Indra.
"Kaki saya nggak sakit, tapi hati saya yang sakit" ujarnya sambil terkekeh.
Indra
azwan (51) sejak 9 Juli lalu telah melangkahkan kakinya pergi dari
kampung halamannya di Malang, Jawa timur. Jutaan langkah ia tempuh
selama sembilan hari dalam aksi jalan kakinya menuju
Istana Negara
di Jakarta, tak lain demi mencari keadalian atas tewasnya sang anak,
Andika Rizki. Pasalnya, anggota polisi yang
menabrak anaknya itu, Joko Sumantri hingga kini masih dapat
lolos dari pertanggung jawaban secara hukum.
Pria yang pernah
menikah dua kali itu mengaku tidak mempersiapkan secara khusus fisiknya
sebelum ia melakukan jalan panjang tersebut. Hanya bermodalkan tekad dan
cintanya terhadap mendiang anak sulungnya itu, ia bisa dengan selamat
tiba di Jakarta.
Indra mengaku ketika tiba di
Jati Barang
Indramayu,
Jawa Tengah,
ia sempat di periksa oleh seorang dokter. Hasilnya, tidak ada kendala
kesehatan bagi pria tersebut yang mengharuskan ia menghentikan
perjalanannya.
Hanya bermodalkan ransel ala militer, dua pasang
sepatu, tiga pasang kaus kaki, dan lima potong baju, sebuah peta serta
bekal uang Rp, 500.000. Indra berjalan setiap hari setidaknya 15 Jam
sehari, mulai dari jam 05.30 wib, hingga pukul 21.00 WIB.
"Soalnya saya
ngejar pombensin (SPBU), saya numpang tidur di sana, kalau tidak ya saya
nyari kounitas orang
Malang" tutur Aremania ini.
Untungnya,
selama perjalanan Indra tidak
henti-hentinya mendapatkan teman, bantuanpun silih berganti datang
seiring aksinya menarik banyak perhatian orang. sore ini ketika tiba di
Lembaga Bantuan hukum (LBH) Jakarta, sejumlah orang dari berbagai kota
yang ia pernah sambangi selama perjalananpun tampak masih setia
menemani.
Sore ini, akhirnya pria itu dapat menyelesaikan
misinya, ia dapat dengan selamat tiba di seberang istana negara. dengan
nafas tersenggal dan peluh yang membasahi wajah tua itu, Indra
mengungkapkan dengan lantang maksud dan tujuannya datang didepan
pendukung dan petugas kepolisian yang mengawal.
"saya berharap
pak presiden mau mendengar harapan rakyat kecilm hal ini (aksi jaoan
kaki) adalah setetes embun bagi saya, saya sudah tidak tahu lagi mau
pergi kemana" ujar Indra.
Sebelumnya, ia mengaku telah
menyambangi sejumlah institusi. Mulai dari satgas mafia hukum, komnas
HAM, Ombudsman hingga Kompolnas, namun tidak ada jawaban yang pasti akan
permintaannya
mencari keadilan itu.
Pria berambut panjang itu ketika
merencanakan perjalanan panjang ini sempat tidak berani menguarakan
rencananya itu kepada sang anak, Dwi Andita Rachmania (27), yang ketika
kakanya tewas ia masih berumur 10 tahun. "saya tahunya dari Ibu, baru
waktu saya tanya, bapak ngaku' ujarnya ketika menemani sang bapak
mengelar aksi di Istana sore ini.
"Perasaan saya campur aduk
selama bapak dalam perjalanan, tapi untungnya bapak dapat banyak teman
selama perjalanan" ujar wanita yang mengaku tinggal di
Bekasi itu.
Langkah
kakinya terhenti diseberang istana, aksi yang ia gelar hingga presiden
SBY melintas iutpun terpaksa ia batalkan setelah pihak kepolisian
memintanya ia pergi. Pihak LNH Jakarta yang mendampingi aksi tersebut
juga tidak dapat berbuat abnyak ketika sejumlah petugas dari Polsek
Gambir memintanya pergi, pasalnya perizinan yang telah dilayangkan juga tidak membenarkan aksi Indra hingga laru
malam.
Akhirnya, dengan mengendarai Taksi dan ditemani sang
anak, Indra Aswar angkat kaki dari seberang istana itu, untuk kembali
menuju LBH Jakarta. Namun aksinya tidak akan terhenti di situ, ia
mengaku akan berkordinasi untuk melancarkan aksi denan tema serupa. Lima
menit setelah Indra dan rombongannya pergi, rombongan wapres
Boedionopun melintas, dengan disusul rombongan SBY lima belas menit
setelahnya. (*)