Kamis, 16 April 2026

Jangan Pernah Tinggalkan Sahur

Sahur kerap dilupakan saat umat Islam menjalankan shaum atau puasa. Padahal, manfaat dan pahalanya sungguh sayang dilewatkan.

TRIBUNNEWS.COM  - SALAH satu kegiatan shaum yang jarang dibahas umat Islam adalah sahur. Mungkin karena kegiatan ini bersifat sunah dan orang tidak terlalu memikirkan/menyiapkan, seperti saat berbuka.

Sahur terkesan dilakukan seadanya. Bahkan orang meninggalkan sahur karena mengangggap mampu menahan lapar dan haus seharian. Padahal, bila mengetahui rahasia sahur orang akan menyambutnya penuh khidmat dan menikmati setiap detiknya dengan keikhlasan.

Sahur berasal dari kata sahira, artinya waktu di pengujung malam, waktu menjelang fajar dan diartikan juga sihir. Secara maknawi sahur berarti satu momen di pengujung malam di mana Allah dan malaikat datang memberikan magfirah kepada abdi-abdi yang memohon magfirah. Lihat QS 51: 18 yang artinya "Dan mereka selalu memohonkan ampunan di waktu sahur".

Dan orang yang tidak sahur, dapat dipahami dia terkena sihir. Matanya tersihir oleh kelelahan dan malas untuk bangun sahur.

" Jadi, sahur bagi orang yang bertakwa adalah sahur yang bernilai magfirah. Dengan magfirah Allah inilah mereka menjalani shaum, sehingga apa yang dimakan/diminum, apa yang dipikirkan, apa yang diinginkan dan dilakukan, menjadi magfirah bagi dirinya," kata Ahmad Syaukani Arsyad, Ketua QIC Banjarmasin.

Magfirah berasal dari kata ghafara yang artinya membuka. Kita memohon magfirah Allah dikarenakan batin kita tertutup dari Allah. Adapun yang menutupi diri kita dengan Allah inilah yang disebut zanbi (dosa) dan dalam istilah modern disebut Psychological Barier.

Pengertian ghafiru zanbi pada QS 40: 2 mengandung pengertian kita minta dibukakan hambatan-hambatan psikologis yang menutupi hubungan diri kita dengan Allah.

Munculnya zanbi ini akibat interaksi diri kita dengan sesuatu di luar diri, karena adanya tuntutan makan dan seksual pada diri yang menghasilkan pengetahuan dan pengalaman hidup.

Karena pengetahuan dan pengalaman ini tidak bisa kita gunakan dalam rangka bertakwa kepada Allah, maka pengetahuan dan pengalaman itu menjadi zanbi yang menutupi hubungan diri kita dengan Allah.

Pengetahuan dan pengalaman yang tak terkontrol inilah, menjadi Naar bagi diri kita bukan menjadi Nuur yang menerangi diri kita.

Bila kita memahami sahur ini berkaitan dengan magfirah Allah, maka sebaiknya kita tidak lagi meninggalkan sahur. Oleh karena itu bersahurlah walau segelas air putih.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved