Minggu, 5 Februari 2012
Tribunnews.com

Sadis... Seorang Napi Makan Paru-Paru Teman Satu Selnya

Tribunnews.com - Kamis, 2 September 2010 03:55 WIB
Share
Email
Print
  + Text 
Sadis... Seorang Napi Makan Paru-Paru Teman Satu Selnya
ist
Ilustrasi
TRIBUNNEWS.COM, ROUEN --- Nicolas Cocaign, seorang tahanan Prancis yang dikenal kanibal, membunuh rekan satu tahanannya dan kemudian memakan paru-paru dari korban.

Insiden ini terjadi karena pihak berwenang tidak mengindahkan perlunya bantuan psikologis bagi tahanan tersebut.

Nicolas Cocaign mengaku kepada para hakim di Kota Rouen, jika dirinya memiliki sejarah panjang atas penyakit mental jauh sebelum dia membunuh dan memakan rekan satu selnya.

Pada insiden itu, pria berusia 39 tahun tersebut mengeluarkan paru-paru dari korban dan menggorengnya pada sebuah tungku buatan di dalam sel yang ditinggali keduanya.

Sebelumnya Cocaign membunuh rekan satu selnya Thierry Baudry pada 2007, dengan menendang dan memukulinya. Tidak hanya itu, korban juga ditusuk dengan gunting dan mencekiknya dengan kantung plastik.

Usai membunuh korban, jaksa penuntut umum mengatakan Cocaign kemudian membelah dada korban dan mengeluarkan organ dari korban.

Lebih lanjut pihak penuntut menambahkan jika Cocaign mengeluarkan organ tubuh korban seperti paru-paru. Awalnya pelaku mengira jika organ yang dikeluarkannya itu merupakan jantung dari korban.

Cocaign mengaku jika dirinya memakan paru-paru korban secara mentah dan menggoreng sebagian paru-paru tersebut dengan bawang.

Dalam interogasi sebelum pengadilan terhadap dirinya, pria yang mengaku memiliki gangguan mental tersebut menyatakan jika dirinya ingin merebut jiwa korban dengan cara menjadi kanibal.

Pada pihak pengadilan pula Cocaign menekankan jika dirinya memiliki latar belakang gangguan jiwa.

"Tidak orang yang mau mendengarkan saya. Saya sudah beberapa kali meminta pertolongan sambil menyatakan jika saya dapat melakukan tindakan amat berbahaya," aku Cocaign seperti dikutip AFP, Selasa (22/6/2010).

Lahir pada 1971 silam, Cocaign dibuang oleh ibunya yang gelandangan. Dia pun dirawat oleh negara hingga akhirnya diadopsi pada usia tiga tahun. Sejak usia enam tahun dirinya sudah menjalani perawatan dengan ahli jiwa.

Menurut laporan perawatan masa kecilnya, Cocaign memiliki kesulitan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Gangguan jiwanya makin menjadi saat dia diperkosa pada usia 13 tahun.

Editor: OMDSMY Novemy Leo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup