TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
Malaysia Tetap Ingin Berhubungan Baik dengan Indonesia
Tribunnews.com - Jumat, 3 September 2010 00:44 WIB

IST
Peta Asia Tenggara
"Kami ingin berhubungan baik dengan Indonesia, kami tidak bisa membiarkan hal-hal berkembang di luar kendali"
Deputi Menteri Luar Negeri Malaysia, Richard Riot
Berita Terkait: Indonesia dan Malaysia Memanas
TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR- Deputi Menteri Luar Negeri Malaysia Richard Riot mengatakan tetap ingin berhubungan baik dengan Indonesia. Walau begitu, Richard tidak yakin permasalahan perbatasan akan bisa diselesaikan dengan cepat karena masing-masing pihak merasa benar.
"Saya tidak berpikir itu akan selesai cepat. Setelah 16 kali rapat, belum juga terselesaikan. Jadi, saya pikir tidak bisa diselesaikan secepat itu," kata Riot kepada AFP. "Jika itu sampai buntu, Mahkamah Internasional akan menjadi tempat di mana klaim diselesaikan, sebagai upaya terakhir," katanya , Kamis (2/9/2010). Ia merujuk ke pengadilan tinggi PBB di Den Haag.
Malaysia mengakui, kedua belah pihak memiliki kesalahan dalam hal klaim perbatasan sehingga memicu kemarahan rakyat di dua negara.
"Kami ingin berhubungan baik dengan Indonesia, kami tidak bisa membiarkan hal-hal berkembang di luar kendali" tambahnya.
Menurut Deputi Menteri Luar Negeri Malaysia Richard Riot, dalam insiden di perairan 13 Agustus kemarin, kedua negara keliru.
Saat Indonesia menangkap nelayan Malaysia dan Malaysia menahan pejabat Indonesia. Riot mengatakan, kedua negara telah bertemu secara teratur untuk mencoba menyelesaikan sengketa perbatasan maritim, tetapi hingga kini belum mencapai kesepakatan soal demarkasi.
Bulan lalu, tujuh nelayan Malaysia ditahan di perairan yang disengketakan di selatan Malaysia oleh pihak berwenang Indonesia yang menuduh mereka telah melintasi perbatasan.
Sementara Malaysia menahan tiga pejabat Indonesia juga dengan tuduhan lintas batas. Semua mereka yang ditahan, yaitu para nelayan Malaysia dan pejabat Indonesia, telah dibebaskan, tetapi insiden tersebut telah memicu respons marah di Indonesia.
"Kedua belah pihak salah. Mereka datang ke perairan kami untuk menarik nelayan kami dan kami menghentikan mereka di perairan mereka, sementara mereka menarik nelayan kami ke Indonesia. Kami sama-sama membuat kesalahan, tapi kita harus terus berupaya," kata dia.
Wakil Menteri itu mengatakan, kedua negara akan bertemu lagi pada tanggal 6 September di Malaysia untuk mencoba menenangkan emosi dan mencari cara untuk melanjutkan pekerjaan. "Meskipun protes di Indonesia, kami tidak akan mengeluarkan travel advisory karena segala sesuatunya sudah tenang dan ini hanya sekelompok kecil yang memicu hal itu," katanya tentang aksi protes di Jakarta. (*)
"Saya tidak berpikir itu akan selesai cepat. Setelah 16 kali rapat, belum juga terselesaikan. Jadi, saya pikir tidak bisa diselesaikan secepat itu," kata Riot kepada AFP. "Jika itu sampai buntu, Mahkamah Internasional akan menjadi tempat di mana klaim diselesaikan, sebagai upaya terakhir," katanya , Kamis (2/9/2010). Ia merujuk ke pengadilan tinggi PBB di Den Haag.
Malaysia mengakui, kedua belah pihak memiliki kesalahan dalam hal klaim perbatasan sehingga memicu kemarahan rakyat di dua negara.
"Kami ingin berhubungan baik dengan Indonesia, kami tidak bisa membiarkan hal-hal berkembang di luar kendali" tambahnya.
Menurut Deputi Menteri Luar Negeri Malaysia Richard Riot, dalam insiden di perairan 13 Agustus kemarin, kedua negara keliru.
Saat Indonesia menangkap nelayan Malaysia dan Malaysia menahan pejabat Indonesia. Riot mengatakan, kedua negara telah bertemu secara teratur untuk mencoba menyelesaikan sengketa perbatasan maritim, tetapi hingga kini belum mencapai kesepakatan soal demarkasi.
Bulan lalu, tujuh nelayan Malaysia ditahan di perairan yang disengketakan di selatan Malaysia oleh pihak berwenang Indonesia yang menuduh mereka telah melintasi perbatasan.
Sementara Malaysia menahan tiga pejabat Indonesia juga dengan tuduhan lintas batas. Semua mereka yang ditahan, yaitu para nelayan Malaysia dan pejabat Indonesia, telah dibebaskan, tetapi insiden tersebut telah memicu respons marah di Indonesia.
"Kedua belah pihak salah. Mereka datang ke perairan kami untuk menarik nelayan kami dan kami menghentikan mereka di perairan mereka, sementara mereka menarik nelayan kami ke Indonesia. Kami sama-sama membuat kesalahan, tapi kita harus terus berupaya," kata dia.
Wakil Menteri itu mengatakan, kedua negara akan bertemu lagi pada tanggal 6 September di Malaysia untuk mencoba menenangkan emosi dan mencari cara untuk melanjutkan pekerjaan. "Meskipun protes di Indonesia, kami tidak akan mengeluarkan travel advisory karena segala sesuatunya sudah tenang dan ini hanya sekelompok kecil yang memicu hal itu," katanya tentang aksi protes di Jakarta. (*)
Editor: Iswidodo | Sumber: Kompas.com
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Internasional Terbaru
BERITA TERKINI
- Sore Ini hingga Besok KPSI Gelar Kongres Tahunan
- Anggie Siapkan Brownies Untuk Tahlilan
- Batavia Gagal Terbang dari Pontianak ke Jakarta
- Siang Ini Zumi Zola Bicara Soal Tuduhan Perselingkuhannya
- Angelina: Saya Bawa Anak-anak Biar Kuat
- Anak-anak Angie Risau dan Kebingungan
- Warga Tanralili Rayakan Maulid Bersama Bupati
- Dzikir Akbar Usai Sebagian Jalan di Jakpus Macet
- 17 Universitas di Sulawesi Terancam Jadi Sekolah Tinggi
- Bangunan Medali Beijing Sebabkan kekhawatiran di Cina
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
