Kamis, 17 Mei 2012
Tribunnews.com

Malaysia Meremehkan! Buktinya Surat Presiden Tak Dibalas

Tribunnews.com - Rabu, 8 September 2010 07:32 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Malaysia Meremehkan! Buktinya Surat Presiden Tak Dibalas
TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Benteng Demokrasi Rakyat Indonesia (Bendera) melakukan aksi bakar bendera Malaysia di Sekretariat Bendera, Jalan Diponegoro Jakarta, Selasa (17/8/2010). Pembakaran bendera Malaysia sebagai bentuk protes keras terhadap negeri Jiran Malaysia yang melakukan pengkapan terhadap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia. (TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mengatakan Indonesia harusnya lebih keras kepada Malaysia. Terlebih lagi, surat yang dikirimkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak direspon sama sekali, dan itu merupakan bentuk pelecehan.

"Surat Presiden tidak dibalas, berarti upaya lunak selesai, jalan terakhir memang perang, tetapi harus setapak lebih keras dulu, misalnya tarik Dubes, tarik TKI, " ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta, Selasa(7/9/2010).

Pria yang akrab disapa Bang Yos tersebut menjelaskan bahwa pengiriman surat ke pemerintah Malaysia yang dikirim SBY terkait kasus penangkapan staf Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) merupakan hal yang sangat penting.

"Harusnya dijawab, itu surat penting, " jelasnya.

Meski demikian, lanjut Bang Yos jika pilihan terakhir adalah perang, Indonesia bisa dikatakan belum siap dari segi peralatan. Momentum tersebut, menurut Letnan Jenderal TNI Purnawirawan itu hal yang baik untuk mengevaluasi perlengkapan senjata TNI.

"Tentara kita sangat siap untuk perang, lho wong dia teken kontrak untuk mati, tapi perlengkapan kita yang kurang, itu bisa kita atasi dengan gerilya. Untuk peralatan ini momentum untuk menginventarisir senjata kita, " jelasnya.

Bang Yos melanjutkan langkah tegas pemerintah Indonesia sangat ditunggu setelah perundingan di Kinabalu tuntas dan selesai.

"Kita harus menunggu hasil perundingan, kalau tidak memuaskan kita harus keras dan tegas,"tandasnya.

Penulis: Willy Widianto  |  Editor: Prawira Maulana
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup