Kesempatan Kerja
Anda Berminat Jadi Pelaut?
INGIN tahu profesi apakah yang cukup menggiurkan dan potensial buat anak-anak lulusan SMU saat ini?
TRIBUNNEWS.COM - INGIN tahu profesi apakah yang cukup menggiurkan dan potensial buat anak-anak lulusan SMU saat ini?
Jawabannya salah satunya adalah sebagai pelaut. Ya, kemungkinan lulusan SMU saat ini menjadi pelaut sangat besar karena kebutuhannya memang sangat besar.
Kepala Badan Diklat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Dedi Darmawan memperkirakan, kebutuhan pelaut di Indonesia saat ini mencapai 18.000 orang. Saat ini, dunia pelayaran nasional memang sedang mengalami krisisi pelayaran, karena itu kemungkinan menjadi pelaut sangat besar.
"Krisis tenaga perwira laut ini juga dipicu oleh ketidak seimbangan antara jumlah armada dengan tenaga pelaut. Harusnya, perusahaan pelayaran menyiapkan SDM sebelum melakukan pembelian kapal," kata Dedi Darmawan.
Karena tambahan jumlah kapal dalam lima tahun terakhir tergolong tinggi, yaitu lebih dari 3.000 unit. Padahal, dalam satu kapal setidaknya harus diisi oleh minimal 10 awak, tergantung dari ukuran kapalnya.
Dijelaskannya, bila pada 2005 jumlah armada kapal hanya 16.000 unit, maka saat ini sudah mencapai lebih dari 19.000 unit kapal. Seharusnya pertumbuhan armada bisa diikuti pertumbuhan tenaga pelaut, khususnya tingkat perwira, sehingga kekhawatiran kekurangan pelaut bisa diantisipasi.
Krisis pelaut ini juga dirasakan perusahaan pelayaran di luar negeri, karenanya banyak pelaut yang hengkang ke luar negeri juga karena digaji jauh lebih besar.
Bayangkan saja, pelayar di Indonesia biasanya digaji minimal Rp 5 juta. Sementara kapal-kapal asing menjanjikan gaji antara Rp 36 juta hingga Rp 90 juta.
Untuk urusan ini, pemerintah tidak bisa mengintervensi. Bila pelaut akan hengkang ke kapal luar negeri tidak bisa dihalang-halangi. Meski demikian, agar stok pelayar banyak harus ada penambahan sekolah dan pelatihan pelayaran.
"Perusahaan pelayaran harus ikut berperan aktif mempromosikan program IMO. Perusahaan pelayaran jangan hanya menunggu lulusan dari akademi kemaritiman, tetapi juga mencetak SDM sendiri sesuai kebutuhannya," ujarnya Dedi.
Harus ada perananan aktif dari perusahaan pelayaran, misalnya dengan memberikan beasiswa kepada para taruna, dengan perjanjian bila selesai bekerja di perusahaannya,"katanya.
Ikatan dinas seperti itu, merupakan satu alternatif untuk mencegah para lulusan hengkang ke luar negeri. Cara lain ialah, memberikan gaji yang seimbang dengan yang ditawarkan perusahaan pelayaran asing.
Menurut Dedi, perusahaan pelayaran nasional kalah cepat dengan asing. Di sejumlah negara, pemilik perusahaan pro aktif mendatangi sekolah-sekolah pelaut di Indonesia untuk mencari taruna unggulan.
“Mereka itu langsung memberikan biaya penuh kepada taruna bersangkutan termasuk biaya hidup selama mengikuti pendidikan,”katanya.
Harusnya, kata Dedi, cara seperti itu juga dilakukan perusahaan pelayaran nasional. Kalau sejak awal sudah ada ikatan, meskpun gaji yang diterima di dalam negeri lebioh kecil, para lulusan tidak akan berani lari ke luar negeri.