Kamis, 21 Mei 2026

Merapi Meletus

Yuni Relakan Rumahnya jadi Tempat Pengungsian

Yuni (33), warga Desa Daengan, Depok, Sleman dengan lapang hati menerima keluarga besar Winarno (39), pengungsi asal Hargabinangun di rumahnya.

Tayang:
Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Galih Pujo Asmoro

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Yuni (33), warga Desa Daengan, Depok, Sleman dengan lapang hati menerima keluarga besar Winarno (39), pengungsi asal Hargabinangun, Pakem. Rumah pribadinya ia jadikan tempat penampungan.

Ketika ditemui Tribun pada Rabu (9/11/2010) sore, ia tengah sibuk memasak mi instan sebagai tambahan lauk untuk makan malam bersama. Sambil menggendong anak bungsunya Rahma (3), ia bercerita keluarga Winarno yang semuanya 20 orang, sudah empat hari numpang di rumahnya.

"Sabtu siang mbak Tri (kakak Winarno) datang menemui saya untuk meminta izin nginap di sini," kata ibu dua anak ini berkisah awal mula pertemuannya dengan keluarga Winarno Sabtu (6/11/2010).  

"Apalagi kedua mertua mbak Tri terkena stroke, dan juga ada bayi yang baru 70 hari. Putera pak Win sendiri ada yang seusia dengan Rahma, jadi bisa menjadi teman bermain," imbuhnya. Rumah Yuni berlokasi tepat di sebelah barat Stadion Maguwoharjo, yang kini dijejali belasan ribu pengungsi.

Rumah itu berukuran sekitar 8x10 meter. Ia mempunyai empat buah kamar, ruang tamu, dapur, sebuah kamar mandi dan WC. Karena ada korban Merapi yang menumpang, Yuni mempersilakan tiga kamarnya untuk digunakan keluarga Winarno.

Wiyasno (70) dan Pariyem (65) yang terkena stroke, ditempatkan di kamar paling belakang agar lebih mudah apabila hendak ke kamar mandi. Dua kamar lainnya digunakan oleh lansia, perempuan, bayi sementara kaum lelaki tidur di ruang tamu berukuran sekitar 4x6 M beralaskan tikar dan matras pribadi Yuni.

"Kalau makan, keluarga pak Win dapat dari panitia, jadi itu tidak membebani saya. Namun kalau mereka ingin tambahan lauk, tinggal ngambil mi instan di barak," ujarnya. Yuni menerima keluarga Winarno semata-mata karena alasan kemanusiaan.

Ia sama sekali tidak mengharapkan balasan apapun nantinya. "Lebih baik saya yang menolong mereka, daripada mereka yang menolong saya," ujarnya. Yuni tak sendirian ketika bencana Merapi memporakporandakan semua sendi hidup masyarakat Yogya.

Ada Mulyadi (28). Pria asal Imogiri, Bantul itu rela menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar mandi Stadion Maguwoharjo. Pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan tetap ini bercerita, ia mulanya diajak tetangga yang menyediakan jasa sedot sumur dan WC.

Semula ia ingin bekerja dan mencari uang untuk itu. Namun ketika melihat kondisi di lokasi pengungsian, pikiran tersebut lenyap.

"Saya pernah merasakan jadi pengungsi ketika gempa 2006 lalu. Saya bisa merasakan betapa menderitanya hidup di pengungsian. Saya tidak punya apa-apa untuk saya sumbangkan selain tenaga, jadi tidak dibayar pun tidak masalah" katanya lugas.

Mulyadi biasa tiba di Maguwoharjo pukul 06.00 WIB dan pulang ketika intensitas pemakaian kamar mandi sudah menurun. Tidak jarang ia sampai di rumah pukul 23.00 karena ingin memastikan bahwa kondisi kamar mandi sudah benar-benar sepi dan air tidak akan meluap.

Tugas Mulyadi di Stadion Maguwoharjo sebenarnya hanyalah menyedot genangan air kemudian dibuangnya menggunakan mesin pompa diesel. Namun bersama seorang temannya ia juga turut membersihkan kamar mandi.

Ia menyayangkan tindakan pengungsi yang masih saja membuang sampah di kamar mandi sehingga mengakibatkan air menggenang. Padahal hampir di setiap sudut stadion bertebaran imbauan agar tidak menambah masalah dengan membuang sampah sembarangan.

"Pagi dan sore hari setiap sepuluh menit sekali saya menyedot air," katanya sambil membersihkan kamar mandi Stadion yang berbau tidak sedap.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved