TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
Tim Investigasi dan Polisi Sepakat Tama Sasaran Orang Suruhan
Tribunnews.com - Jumat, 19 November 2010 21:26 WIB

TRIBUNNEWS.COM/SAMUEL FEBRIANTO
Aktivis ICW, Tama S Langkun, yang dianiaya beberapa orang tak dikenal, Kamis silam sedianya diperbolehkan oleh pihak RS Asri, Duren Tiga, pulang hari ini, Selasa (13/7/2010)
Berita Terkait: Penganiayaan Aktivis ICW
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim investigasi kasus penganiayaan aktivis ICW, Tama S Langkung, mengaku mendapat kesamaan persepsi dengan pihak Polda Metro Jaya terkait kasus tersebut. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta juga mengakui bahwa hasil pertemuan yang digelar dengan Polda Metro Jaya mendapatkan perkembangan yang cukup baik.
"Saya kira hari ini, kita mendapatkan perkembangan yang cukup bagus, proses penyidikan kasus Tama bisa tanya ke penyidik langsung, namun secara umum kita telah mendapat kesamaan," Kata Direktur LBH Jakarta, Nurcholis di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, (19/11/2010).
Nurcholis mengatakan kesamaan presepsi tersebut yaitu kedua pihak yakin Tama sedari awal menjadi target orang suruhan yang tidak suka terhadap gerak-gerik aktivis ICW itu. Dirinya juga menjelaskan bahwa pemeriksaan penyidik hingga saat ini masih berkutat pada keterangan saksi, petunjuk di sekitar lokasi kejadian serta peristiwa yang terjadi sebelum penganiayaan.
Hal serupa juga dikatakan oleh Tama S Langkun, menurutnya berdasarkan berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan alat bukti, dirinya sudah ditarget oleh pelaku. "Mereka (pelaku) tidak salah target, itu point pentingnya, pemeriksaan juga dilakukan saat proses sebelum kejadian, saat kejadian dan pasca kejadian," imbuh Tama.
Walau sudah mendapatkan kesamaan persepsi, Tama mengaku belum dapat mengetahui kapan pelaku penganiayaan dirinya dapat terungkap. "Proses penyelidikan kapan selesai, itu sulit karena setiap kasus ada kendalanya, tapi ada semangat dari kepolisian sampai sekarang untuk menyelesaikan kasus itu," terangnya.
Tama menambahkan saat ini kepolisian sedang mengurai motif dibalik penganiayaan yang menyebabkan luka di pelipis kanannya. "Tetapi bahwa asumsi itu tidak salah yaitu sasarannya adalah saya," tukasnya.
Untuk diketahui, seorang aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Tama S Langkun, dianiaya orang tak dikenal di Jalan Tanjung Barat 3, Jakarta Selatan, Kamis (8/7/2010) pukul 03.45 WIB. Tama dihadang sejumlah orang usai nonton bareng partai semifinal Jerman versus Spanyol. Diduga penganiayaan itu terkait kritik keras Tama soal rekening gendut sejumlah perwira polisi. Hingga saat ini, polisi belum dapat menangkap pelaku penganiayaan tersebut. Padahal kasus tersebut menjadi perhatian publik, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengunjungi Tama ketika dirawat di RS Asri.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim investigasi kasus penganiayaan aktivis ICW, Tama S Langkung, mengaku mendapat kesamaan persepsi dengan pihak Polda Metro Jaya terkait kasus tersebut. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta juga mengakui bahwa hasil pertemuan yang digelar dengan Polda Metro Jaya mendapatkan perkembangan yang cukup baik.
"Saya kira hari ini, kita mendapatkan perkembangan yang cukup bagus, proses penyidikan kasus Tama bisa tanya ke penyidik langsung, namun secara umum kita telah mendapat kesamaan," Kata Direktur LBH Jakarta, Nurcholis di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, (19/11/2010).
Nurcholis mengatakan kesamaan presepsi tersebut yaitu kedua pihak yakin Tama sedari awal menjadi target orang suruhan yang tidak suka terhadap gerak-gerik aktivis ICW itu. Dirinya juga menjelaskan bahwa pemeriksaan penyidik hingga saat ini masih berkutat pada keterangan saksi, petunjuk di sekitar lokasi kejadian serta peristiwa yang terjadi sebelum penganiayaan.
Hal serupa juga dikatakan oleh Tama S Langkun, menurutnya berdasarkan berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan alat bukti, dirinya sudah ditarget oleh pelaku. "Mereka (pelaku) tidak salah target, itu point pentingnya, pemeriksaan juga dilakukan saat proses sebelum kejadian, saat kejadian dan pasca kejadian," imbuh Tama.
Walau sudah mendapatkan kesamaan persepsi, Tama mengaku belum dapat mengetahui kapan pelaku penganiayaan dirinya dapat terungkap. "Proses penyelidikan kapan selesai, itu sulit karena setiap kasus ada kendalanya, tapi ada semangat dari kepolisian sampai sekarang untuk menyelesaikan kasus itu," terangnya.
Tama menambahkan saat ini kepolisian sedang mengurai motif dibalik penganiayaan yang menyebabkan luka di pelipis kanannya. "Tetapi bahwa asumsi itu tidak salah yaitu sasarannya adalah saya," tukasnya.
Untuk diketahui, seorang aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Tama S Langkun, dianiaya orang tak dikenal di Jalan Tanjung Barat 3, Jakarta Selatan, Kamis (8/7/2010) pukul 03.45 WIB. Tama dihadang sejumlah orang usai nonton bareng partai semifinal Jerman versus Spanyol. Diduga penganiayaan itu terkait kritik keras Tama soal rekening gendut sejumlah perwira polisi. Hingga saat ini, polisi belum dapat menangkap pelaku penganiayaan tersebut. Padahal kasus tersebut menjadi perhatian publik, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengunjungi Tama ketika dirawat di RS Asri.
Editor: Prawira Maulana
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Nasional Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

