TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Menghargai Hidup Setelah Dikubur 10 menit
Tribunnews.com - Minggu, 12 Desember 2010 23:03 WIB

net
Peti Mati
Saya merasa seperti dilahirkan kembali begitu keluar dari peti, dan saya menjadi lebih menghargai setiap detik dalam hidup saya
Xiao Lin, Mahasiwa kedokteran
Berita Lainnya
TERKADANG kita tidak menghargai hidup kita karena selalu merasa kurang mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Salah satu cara agar kita bisa meghargai kehidupan kita yakni menjalani proses kematian dan dikubur hidup-hidup selama 10 menit.
Demikian praktek kuliah yang diajarkan oleh Profesor Qiu Daneng, dosen di Rende Medical College, Taiwan, itu kepada mahasiswa kedokteran bimbingannya. Ide gila ini menurutnya, bisa membuat mahasiwa mengapreasi, atau tak menganggap remeh nilai kehidupan.
Daneng mengatakan, memberikan wawasan kematian kepada mahasiswa kedokteran penting sebagai bekal mempertahankan kehidupan masyarakat lewat profesinya.
Pelajaran itu dimulai dari menulis surat wasiat. Memakai kostum kematian. Masuk ke peti mati. Setelah itu mahasiwa mengenakan busana untuk orang meninggal, dan kemudian masuk ke dalam sebuah peti mati.
Dalam kondisi tertutup rapat, peti mati itu kemudian 'dikubur' di sebuah rongga di bawah lantai selama 10 menit. Namun, agar mahasiswanya bisa tetap bernapas, Daneng sengaja mendesain peti itu dengan sejumlah celah yang memungkinkan sirkulasi oksigen terjaga.
"Meski hanya 10 menit, efek ketakutannya sama seperti benar-benar mengalami kematian," kata Daneng seperti dilansir Orange News, Inggris.
Lalu apa kata mahasiswanya? "Saya merasa seperti dilahirkan kembali begitu keluar dari peti, dan saya menjadi lebih menghargai setiap detik dalam hidup saya," kata salah satu mahasiswa, Xiao Lin.
Demikian praktek kuliah yang diajarkan oleh Profesor Qiu Daneng, dosen di Rende Medical College, Taiwan, itu kepada mahasiswa kedokteran bimbingannya. Ide gila ini menurutnya, bisa membuat mahasiwa mengapreasi, atau tak menganggap remeh nilai kehidupan.
Daneng mengatakan, memberikan wawasan kematian kepada mahasiswa kedokteran penting sebagai bekal mempertahankan kehidupan masyarakat lewat profesinya.
Pelajaran itu dimulai dari menulis surat wasiat. Memakai kostum kematian. Masuk ke peti mati. Setelah itu mahasiwa mengenakan busana untuk orang meninggal, dan kemudian masuk ke dalam sebuah peti mati.
Dalam kondisi tertutup rapat, peti mati itu kemudian 'dikubur' di sebuah rongga di bawah lantai selama 10 menit. Namun, agar mahasiswanya bisa tetap bernapas, Daneng sengaja mendesain peti itu dengan sejumlah celah yang memungkinkan sirkulasi oksigen terjaga.
"Meski hanya 10 menit, efek ketakutannya sama seperti benar-benar mengalami kematian," kata Daneng seperti dilansir Orange News, Inggris.
Lalu apa kata mahasiswanya? "Saya merasa seperti dilahirkan kembali begitu keluar dari peti, dan saya menjadi lebih menghargai setiap detik dalam hidup saya," kata salah satu mahasiswa, Xiao Lin.
Editor: OMDSMY Novemy Leo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Internasional Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

