Tribunners / Citizen Journalism
Garuda di Dadaku Milik Siapa?
Hak cipta lagu Garuda di Dadaku yang dibawakan oleh grup musik Netral, yang notasinya ada kemiripan dengan daerah asal Biak, Apuse.
TRIBUNNEWS.COM - Sebagaimana lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman, siapa sangka lagu yang hanya dimainkan secara instrumentalis dengan gesekan biola mampu menggugah semangat nasionalisme para pemuda yang menghadiri Konggres Pemuda Indonesia II, pada 28 Oktober 1928, yang kemudian melahirkan ikrar Sumpah Pemuda. Ini menunjukkan sebuah lagu mampu membangkitkan spirit nasionalisme dan semangat juang.
Lagu-lagu bertemakan spirit kebangsaan lainnnya yang diciptakan di era pasca kemerdekaan seperti Kebyar-Kebyar (Gombloh), Mutiara Pertiwi (Leo Kristi), Indonesia (Franky Sahilatua), Kibar-Kibar Benderaku (Ully Sigar Rusady), Merah Putih (Tyas D), Bendera (Cokelat), dan juga Garuda di Dadaku yang dibawakan oleh grup musik Netral yang kini menjadi lagu pembangkit semangat Timnas PSSI di ajang AFF Cup 2010 .
Di tengah gegap-gempita euforia kemenangan Timnas PSSI atas kesebelasan Malaysia, Laos, Thailand dan Philipina, lagu Garuda di Dadaku ini yang dinyanyikan secara koor oleh paduan suara supporter ternyata gema dan gaungnya mampu membangkitkan spirit kebangsaan dan memacuh semangat juang pantang menyerah Timnas Indonesia untuk berjibaku menaklukan lawan tandingnya. Kemenangan demi kemenangan ini semoga menandai kebangkitan dan kebanggaan dunia persepakbolaan kita yang cukup lama terpuruk.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mencari sensasional atau kontroversi di tengah euforia kebangkitan dunia persepakbolaan kita, dengan mengusik keberadaan hak cipta lagu Garuda di Dadaku yang kini jadi lagu penyemangat dalam pertandingan olahraga, khusus di sepakbola. Justru di sini kita ingin menempatkan sebagaimana mestinya kelaziman yang terkait dengan penghargaan mengenai hak cipta musik atau lagu.
Tulisan artikel ini sendiri adalah hasil editing rangkuman komentar-komentar di facebook: Forum Apresiasi Musik Indonesia, seputar pertanyaan keberadaan karya dan hak cipta lagu Garuda di Dadaku yang dibawakan oleh grup musik Netral, yang notasinya ada kemiripan dengan daerah asal Biak, Apuse.
Kalau memang lagu Garuda di Dadaku yang jadi soundtrack film dengan judul yang sama adalah inspirasi lagunya atau notasinya diambil dari lagu Apuse, dan kemudian liriknya adaptasi atau diubah jadi Garuda di Dadaku, sudah selayaknya Netral mencantumkan nama penciptanya - kalau tidak tahu atau tidak ditemukan siapa nama pencipta lagu tersebut - bisa cukup dengan mencantumkan nama Pencipta/Lagu: NN, baru Lirik: Ferry & Bagus, dan aransemen musik: Netral. Sportivitas inilah yang seharusnya dilakukan.
Bagaimanapun juga etika pencantuman nama penciptanya ini harus diberlakukan karena menyangkut hak cipta yang dilindungi oleh undang-undang. Jadi siapapun juga tidak tidak bisa dengan semena-mena mencomot lagu orang lain sekalipun itu NN sebagai penciptanya. Apalagi lagu Apuse ini sudah cukup popular di telinga masyarakat Indonesia sebagai lagu daerah asal Biak. Karena dalam setiapkali lagu tersebut diputar di layar kaca tidak pernah ditulis siapa pencipta aslinya? Garuda di Dadaku - Netral. Sementara telinga awan langsung merespon bahwa lagu tersebut notasinya mirip dengan Apuse.
Terlepas dari munculnya pertanyaan keberadaan siapa pemilik hak cipta lagu Garuda di Dadaku? Jawabnya, bahwa lagu yang notasinya mirip dengan lagu Apuse kini sudah menjadi milik rakyat dan bangsa Indonesia. Apalagi kini lagu bertemakan kebangsaan ini sudah menjadi lagu mars untuk membangkitkan semangat juang bagi Timnas PSSI dalam ajang laga AFF 2010 untuk mengembalikan kembali kebanggaan dan kejayaan dunia persepakbolaan kita, atau pada kejayaan bidang olahraga lainnya. Selamat berjuang, sematkan Garuda di dadamu!
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan sportivitasmu
Kuyakin hari ini pasti menang..!!!
(Alex Palit, anggota facebookers Forum Apresiasi Musik Indonesia)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.