TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Batal Nikah Gara-gara Twitter
Tribunnews.com - Selasa, 21 Desember 2010 14:31 WIB

ist
Denise dan Mark, pasangan pengantin yang ingin memecahkan rekor dunia untuk mengucapkan janji pernikahan lebih dari 83 kali.
Berita Lainnya
TRIBUNNEWS.COM, CHINA --- Calon pengantin baru jangan sembarang berkicau di media sosial, seperti Twitter, jika tidak ingin masuk bui. Sebagaimana dialami calon pengantin asal Cina, Cheng Jianping.
Pasangan Cheng dan tunangannya Hua Chuncui yang berprofesi sebagai aktivis hak azasi manusia dijemput paksa tentara China akibat bersahut-sahutan soal politik di Twitter.
Kejadian bermula saat Hua Chunhui mengeposkan sebuah tweet berbunyi: "Demonstrasi anti-Jepang, memboikot produk Jepang, semuanya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu...."
Pesan sarkastik tersebut ditujukan bagi partai Nasionalis China yang memboikot produk Jepang karena sengketa antara kedua negara memperebutkan pulau Diaoyu/Senkaku di Timur Laut China.
Cheng pun membalas kicauan sang kekasih, "Gugat wahai pemuda yang marah!!". Dan, akibat postingan mereka itu, Cheng dan Hua menghilang pada malam pernikahan mereka, 27 Oktober lalu.
Ternyata, malam bahagia itu, Hua ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Hua baru dibebaskan lima hari kemudian, namun Hua masih dihukum paksa di Sungai Shibali di kota Zhengzhou.
Akibat kejadian tersebut, pasangan aktivis ini pun harus rela menunggu selama setahun untuk mengikrarkan pernikahan suci mereka. Di China, media sosial seperti Twitter dilarang.
Pasangan Cheng dan tunangannya Hua Chuncui yang berprofesi sebagai aktivis hak azasi manusia dijemput paksa tentara China akibat bersahut-sahutan soal politik di Twitter.
Kejadian bermula saat Hua Chunhui mengeposkan sebuah tweet berbunyi: "Demonstrasi anti-Jepang, memboikot produk Jepang, semuanya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu...."
Pesan sarkastik tersebut ditujukan bagi partai Nasionalis China yang memboikot produk Jepang karena sengketa antara kedua negara memperebutkan pulau Diaoyu/Senkaku di Timur Laut China.
Cheng pun membalas kicauan sang kekasih, "Gugat wahai pemuda yang marah!!". Dan, akibat postingan mereka itu, Cheng dan Hua menghilang pada malam pernikahan mereka, 27 Oktober lalu.
Ternyata, malam bahagia itu, Hua ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Hua baru dibebaskan lima hari kemudian, namun Hua masih dihukum paksa di Sungai Shibali di kota Zhengzhou.
Akibat kejadian tersebut, pasangan aktivis ini pun harus rela menunggu selama setahun untuk mengikrarkan pernikahan suci mereka. Di China, media sosial seperti Twitter dilarang.
Editor: OMDSMY Novemy Leo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Internasional Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

