TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
BBM Melambung, Ekspansi Maskapai Bisa Tertunda
Tribunnews.com - Kamis, 24 Februari 2011 05:58 WIB

Sriwijaya Airlines
Salah satu pesawat milik Sriwijaya Air
Laporan Wartawan Tribunnews.com , Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Asosiasi Angkutan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) mengkhawatirkan krisis yang terjadi di Timur Tengah bakal mengganggu industri penerbangan nasional. Akibat terjadinya kerusuhan di berbagai negara di Timur Tengah akhir-akhir ini menyebabkan harga minyak dunia terus melambung.
"Karena harga minyak meningkat, semua harga naik. Yang dikhawatirkan adalah daya beli masyarakat yang terus menurun," kata Sekjen INACA, Tengku Burhanuddin di Jakarta, Rabu (23/2).
Dengan penurunan daya beli masyarakat, diperkirakan merekan akan mengurangi rencana bepergian dengan pesawat. Hal ini dikhawatirkan bisa menyebabkan rencana ekspansi maskapai bisa terganggu.
Seperti diberitakan, tahun ini maskapai telah merencanakan ekspansi besar-besaran antara lain Lion Air, akan mendatangkan 22 unit pesawat, Garuda Indonesia 11 unit, Sriwijaya Air 12 unit, Express Air empat unit.
"Walaupun mereka mengadakannya tahun ini, rencana tersebut adalah untuk jangka panjang. Dengan turunnya daya beli saya khawatirkan ekspansi bisa tertunda," ujarnya.
Direktur Niaga Sriwijaya Air, Toto Nursatyo mengatakan, saat ini pihaknya sedang membicarakan hal tersebut. Menurutnya, pekan ini harga BBM dunia mencapai 95 dollar AS per barel dam harga pesawat avtur di Indonesia rata-rata Rp 9.200 per liter
"Mudah-mudahan tidak berpengaruh terhadap ekspansi kami, kalau harga avtur melebihi Rp 10.000, kami akan mengajukan revisi aturan batas atas," tandasnya.
Menurutnya, ekspansi Sriwijaya akan mendatangkan setidaknya delapan pesawat Boeing 737 seri 300 dan 400 serta empat unit Boeing 737-800 NG.
"Kalau harga BBM terus menigkat, dikhawatirkan bisa menyebabkan daya beli menurun dan pertumbuhan penumpang bisa terkoreksi ," jelasnya.
Sriwijaya saat ini telah mengoperasikan 29 unit pesawat, pada 2010 berhasil mengangkut 7,17 juta penumpang. Target 9 juta penumpang pada 2011, menurutnya bisa terkoreksi, namun pihaknya masih optimistis bisa tercapai.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Asosiasi Angkutan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) mengkhawatirkan krisis yang terjadi di Timur Tengah bakal mengganggu industri penerbangan nasional. Akibat terjadinya kerusuhan di berbagai negara di Timur Tengah akhir-akhir ini menyebabkan harga minyak dunia terus melambung.
"Karena harga minyak meningkat, semua harga naik. Yang dikhawatirkan adalah daya beli masyarakat yang terus menurun," kata Sekjen INACA, Tengku Burhanuddin di Jakarta, Rabu (23/2).
Dengan penurunan daya beli masyarakat, diperkirakan merekan akan mengurangi rencana bepergian dengan pesawat. Hal ini dikhawatirkan bisa menyebabkan rencana ekspansi maskapai bisa terganggu.
Seperti diberitakan, tahun ini maskapai telah merencanakan ekspansi besar-besaran antara lain Lion Air, akan mendatangkan 22 unit pesawat, Garuda Indonesia 11 unit, Sriwijaya Air 12 unit, Express Air empat unit.
"Walaupun mereka mengadakannya tahun ini, rencana tersebut adalah untuk jangka panjang. Dengan turunnya daya beli saya khawatirkan ekspansi bisa tertunda," ujarnya.
Direktur Niaga Sriwijaya Air, Toto Nursatyo mengatakan, saat ini pihaknya sedang membicarakan hal tersebut. Menurutnya, pekan ini harga BBM dunia mencapai 95 dollar AS per barel dam harga pesawat avtur di Indonesia rata-rata Rp 9.200 per liter
"Mudah-mudahan tidak berpengaruh terhadap ekspansi kami, kalau harga avtur melebihi Rp 10.000, kami akan mengajukan revisi aturan batas atas," tandasnya.
Menurutnya, ekspansi Sriwijaya akan mendatangkan setidaknya delapan pesawat Boeing 737 seri 300 dan 400 serta empat unit Boeing 737-800 NG.
"Kalau harga BBM terus menigkat, dikhawatirkan bisa menyebabkan daya beli menurun dan pertumbuhan penumpang bisa terkoreksi ," jelasnya.
Sriwijaya saat ini telah mengoperasikan 29 unit pesawat, pada 2010 berhasil mengangkut 7,17 juta penumpang. Target 9 juta penumpang pada 2011, menurutnya bisa terkoreksi, namun pihaknya masih optimistis bisa tercapai.
Editor: Budi Prasetyo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Bisnis Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan


