Selasa, 22 Mei 2012
Tribunnews.com

Groeneveldt Berani Menjabarkan Kesalahan Sejarahwan Barat

Tribunnews.com - Kamis, 26 Mei 2011 16:24 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Groeneveldt Berani Menjabarkan Kesalahan Sejarahwan Barat
tribunnews.com/widodo
barongsai budaya tionghoa

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso P

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wilem Pieter Groeneveldt, dalam kata pengantar bukunya yang berjudul "Notes on the Malay Archipelagi and Malacca Compiled from Chinese Sources", atau "Nusantara dalam Catatan Tionghoa" yang pertama kali diterbitan tahun 1876 menulis kritik pada para pendahulunya.

Dia menganggap para sejarahwan barat yang menyusun ringkasan sejarah Asia Timur sebelum masuknya bangsa Eropa, tidak melakukan riset yang memadai.

Sejarahwan yang menyusun literatur kuno Cina guna menggambarkan keadaan Asia Timur antara lain adalah Peter Amiot yang pada pertengahan tahun 1800 menulis sebuah artikel yang diterbitkan pada jurnal berjudul "M'emories concernant les Chinois," dan Dr.G.Schlegel pada 1870 dengan "Let's omtrent de betrekkingen der Chinezen met Java voor de komst der Europeanen aldaar".

Ada pula Leon Rosny pada 1872 dengan. Les peuples dr L'archipel indien, connus des anciens geographer Chinoist et Japonais; fragments orientauz traduits en francais.

Dalam kata pengantar tersebut Groeneveldt mencontohkan kesalahan yang dilakukan oleh Amiot dan Schlegel, yakni dengan menerjemahkan naskah Tiongkok, yang menyalin informasi tersebut dari sejumlah ensiklopedia Tionghua.

Menurutnya, dalam proses penyalinan, pejabat Tiongkok tersebut telah melakukan penyingkatan untuk kepantasan. Padahal pejabat tersebut dapat dikatakan tidak mengenal negara-negara Asia Timur, sehingga dalam prosesnya banyak terjadi ketidakpatutan.

Ia menganggap para sejarahwan pendahulunya tidak melakukan riset, dan hanya mengambil informasi dari sejumlah ensiklopedia kuno Cina, dan melakukan penambahan serta pengurangan dalam penguraiannya. Sehingga dalam literatur mereka terdapat sejumlah kesalahan fatal.

Sebagai contoh adalah Leon de Rosny, yang menerjemahkan Ensiklopedia Sancai Tuhui, yang dianggap Groeneveldt sebagaigsejarahwan yang paling tidak lengkap membahas Asia Timur.

Kesalahannya antara lain menuliskan Pekalongan yang terletak di Kalimantan, menulis Tuban terdapat di Sumatera dan melakukan kesalahan penulisan.

Dalam karyanya ia mengaku dapat menghindari kesalahan-kesalahan para pendahulunya dengan melakukan perbandingan literatur, sehingga dapat menguraikan materi yang akurat.

Arkeolog dari Universitas Indonesia, Hasan Djafar, dalam diskusi Buku "Nusantara dalam Catatan Tionghoa" Karya W.P Groeneveldt, Kamis, (26/05/2011), di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat, menuturkan bahwa keberanian dan inisiatif Groeneveldt, dengan menjabarkan kesalahan-kesalahan sejarahwan pendahulunya perlu mendapat perhatian khusus.

"Keberaniannya dalam menjabarkan kesalahan pendahulunya perlu diakui, dan metode yang ia gunakan bisa juga dijadikan acuan" terangnya.


Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo  |  Editor: Yudie Thirzano
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup