Selasa, 22 Mei 2012
Tribunnews.com

Lagi, Tugboat Terbakar akibat Ledakan Gas Elpiji

Tribunnews.com - Minggu, 7 Agustus 2011 00:22 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Lagi, Tugboat Terbakar akibat Ledakan Gas Elpiji
SURYA/SUGIHARTO
ilustrasi 

Laporan Wartawan Banjarmasinpost.co.id, Helriansyah

TRIBUNNEWS.COM, KOTABARU - Musibah kembali terjadi di Perairan Kotabaru, tepatnya di kawasan Pulau Kerayaan. Tugboat Global Mandiri terbakar akibat meledaknya tabung elpiji 12 kilogram.

Seorang tewas dan tiga lainnya terbakar seusai berbuka bersama di tugboat tersebut.

Peristiwa mengenaskan itu terjadi Jumat (5/8/2011) sekitar pukul 19.00 Wita.
"Saat itu kami sedang bersantai di sekitar dapur usai berbuka puasa. Akuk (27) berdiri di pintu dapur, sedang Dede (27) berbaring. Saya dan Husein (40) berdiri sekitar dua meter dari tabung elpiji. Sedangkan nakhoda, Mekis (45) tidak tahu di mana. Tiba-tiba kami mencium bau gas. Belum sempat kami melakukan sesuatu, terjadi ledakan itu," kata seorang korban luka-luka, Deki (24) saat ditemui di RSUD Kotabaru, Sabtu (6/8/2011).

Nasib paling menyedihkan dialami Husein. Dia tewas akibat ledakan itu. Berbeda dengan Deki, Akuk dan Dede yang bisa menyelamatkan diri dari kobaran api melalui cara melompat ke laut, Husein terpanggang dalam ruang tersebut.

Kejadian itu menambah daftar musibah di Perairan Kotabaru selama dua bulan ini. Pertengahan Juni 2011, terjadi ledakan dan terbakarnya Landing Craft Tank (LCT) Dagis II di Perairan Desa Hilir, Pulaulaut Utara.

Penyebabnya serupa yakni bocornya gas tabung elpiji 12 kilogram. Dua anak buah kapal (ABK) tewas.

Musibah lebih besar terjadi awal Juni 2011. Perahu Motor Martasiah B2 terbakar di Perairan Tanjung Dewa. Sebanyak 29 orang tewas dipanggang si jago merah.

Warga Kalbar
Hingga kemarin, keempat korban berada di RSUD Kotabaru. Tidak ada keluarga atau kerabat yang menemani karena mereka adalah warga Pontianak, Kalbar. Rasa sakit masih dirasakan Deki, Akuk dan Dede. Beberapa kali bibir mereka gemetar dan meringis menahan rasa sakit di bagian tubuhnya yang melepuh.

Diungkapkan Deki, setelah terjadi ledakan dan api berkobar, dia dan Akuk langsung berlari menuju kamar mandi. Tujuan mereka adalah mencari air untuk memadamkan api. "Tapi, kami tidak kuat lagi. Api telah membakar tubuh kami. Akhirnya kami terjun ke laut untuk memadamkan api di tubuh," katanya.

Dede lain lagi. Meski sempat terkurung, dia nekat menerobos kobaran api di dapur. Upaya itu berhasil meski tubuhnya tak luput dari jilatan api. Begitu keluar dari dapur, dia juga terjun ke laut.

"Bagaimana Husein, saya tidak tahu. Yang ada di pikiran saya itu hanya berupaya menyelamatkan diri dan memadamkan api yang membakar tubuh," kata Deki.

Ditanya posisi sang nakhoda, Mekis, Deki menduga saat kejadian tidak berada di tugboat. "Saya tidak tahu dia berada di mana," tegasnya.

Seperti halnya Deki, Akuk dan Dede mengalami luka bakar di bagian lengan hingga bahu, kaki dan sebagian wajah. "Pertolongan baru datang sekitar 30 menit setelah ledakan itu. Warga berdatangan memberi bantuan. Sebagian membawa kami di Puskesmas Tanjung Lalak dan sebagian lagi memadamkan api. Begitu api padam, kami baru mendapat kabar bahwa Husein telah meninggal. Tubuhnya gosong," kata Deki.

Akuk menambahkan, saat kejadian itu, mereka sedang beristirahat dalam perjalanan dari Jatim menuju Berau, Kaltim. Di Berau, Tugboat Global Mandiri akan menarik tongkang Mulya Mandiri berisi crude palm oil (CPO) menuju Tarjun, Kotabaru.

"Nakhoda memutuskan berhenti di Pulau Kerayaan karena gelombangnya tinggi. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah musibah ini. Nakhoda yang akan memutuskan," ucapnya.


Editor: Anwar Sadat Guna  |  Sumber: Tribun Kaltim
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup