Puting Beliung di Simpangempat Cukup Ekstrem
Hujan es dan puting beliung yang menerjang Desa Garishanyar dan Cintapuri, Simpangempat, Banjar, Jumat (11/11/2011) petang merupakan fenomena
Laporan Wartawan Banjarmasin Post
TRIBUNNEWS.COM, MARTAPURA - Hujan es dan puting beliung yang menerjang Desa Garishanyar dan Cintapuri, Simpangempat, Banjar, Jumat (11/11/2011) petang merupakan fenomena ekstrem yang jarang terjadi.
Staf Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi (Staklim) Klas 1 BMG Banjarbaru, Miftahur Munir, menilai, musibah itu sebagai fenomena yang jarang terjadi dan ekstrem. "Jika melihat kerusakan yang terjadi, puting beliung itu begitu kuat," ujar Munir, Sabtu (12/11/2011).
Menurut Miftahur, fenomena puting beliung yang diawali dengan hujan es merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Itu berbeda dengan hujan es di Alabio, Amuntai, HSU, di mana kejadian itu tidak disertai puting beliung. "Itu sebuah anomali yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Itu perlu diwaspadai," katanya.
Munir mengatakan, kristal es terbentuk dari awan hujan yang cukup dekat dengan bumi, sehingga hujan yang turun tidak hanya berupa rintik air melainkan berupa kristal es. Awannya masuk pada suhu dingin. Air hujan yang seharusnya turun itu sempat membeku karena suhu dingin.
Fenomena hujan es tidak dapat diprediksikan, termasuk tidak bisa terpantau oleh pencitraan satelit. Hujan es dan puting beliung disebabkan awan Cumulunimbus (Cb). Bila kondisi suhu udara masih cukup tinggi, penguapan akan menjadi tinggi. Awan Cumulunimbus (Cb) yang terbentuk menjadi sangat banyak dan semakin menjulang tinggi.
Terkait kekuatan puting beliung, Forecaster Badan Meteorologika dan Geofisika (BMG) Banjarmasin di Bandara Syamsudin Noor, Sugiyanti, menambahkan, jika sesuai kriteria BMKG, puting beliung itu berkecepatan lebih dari 54 kilometer per jam.
Menurut Skala Beaufort kecepatan angin yang terjadi itu mencapai 77 kilometer per jam. Saat ini potensi kemunculan awan Cb sangat besar.