Tua-Muda Luruh Dalam Harmoni Crong-crong
Langit Jakarta yang terus menurunkan hujan tak menghalangi niat pecinta musik keroncong untuk berbondong ke Bentara Budaya Jakarta
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andrian Salam Wiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Langit Jakarta yang terus menurunkan hujan tak menghalangi niat pecinta musik keroncong untuk berbondong ke Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/1/2012). Malah, rinai hujan seolah menjadi pelengkap harmoni sejumlah lagu keroncong yang mengalun lembut.
"Kami memang mendapat agenda musik keroncong. Kami sebagai penggemar musik keroncong, (dimanapun)pasti kami hadir," ujar Vino seorang anggota komunitas dari Jakarta.
Ratusan penonton terlihat sangat menikmati bahkan tak ragu menggoyangkan kepala kala menyaksikan konser yang disuguhkan sejumlah grup musik selama kurang lebih dua jam ini.
Saat Grup musik 'Keroncong Toegoe' memainkan alunan khas alunan gitar Macina (4 senar) dan Prounga -alat musik penghasil suara 'Crong-crong'- misalnya, tak sedikit penonton yang hanyut dan bernyanyi bersama dalam alunan musik musik yang keberadaannya sudah diakui sejak 1920 itu.
Penonton yang hadir tak hanya dari Jakarta. Penggila keroncong dari Bandung bahkan luar jawa seperti Lampung hadir dalam konser tersebut.
"Kalau sudah ada musik keroncong kita itu bersatu. Banyak juga, tidak kalah sama konser-konser musik lainnya," ujar Vino.
Dalam kesempatan itu, grup musik Keroncong Toegoe menyajikan sekitar 15 lagu, di antara lagu yang dibawakan merupakan lagu andalan dari album baru yakni Cafrinho dan Jali-jali.
Suasana kian semarak akal sang Vokalis Keroncong Toegoe, Bung Andre, secara interaktif berkomunikasi dengan para penonton. Andre mengajak ratusan penonton, baik tua, muda, pria, dan wanita yang hadir menjadi satu untuk keroncong.
"Mari kita nikmati malam yang rintik-rintik ini, dengan bergoyang. Mari kita berkeroncong, untuk mengkeroncongkan masyarakat," ujarnya yang disambut 'tarian lembut' ratusan penonton yang hadir.
Musik Keroncong memang tak pernah lepas dari sejarah Indonesia khususnya pada masa penjajahan dahulu. Perkembangan keroncong di Indonesia di awali ketika warga Portugis yang dibuang Belanda ke Batavia dan bermukim di sekitar kampung Bandan.
Di kampung tersebutlah orang-orang buangan tersebut bermusik menggunakan Prounga (Cak), Macina (Cuk), Jitera (gitar kecil), dan Biola. Dari alat-alat tersebutlah bunyi 'Crong-crong' muncul. Secara mudah orang mengidentifikasi musi tersebut dengan pangilan keroncong.