Kondisi Berdarah-Darah Mahasiswa Lamteng Setop Angkot
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah perumpamaan yang cocok menggambarkan

TRIBUNNEWS.COM, BANDAR LAMPUNG-Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah perumpamaan yang cocok menggambarkan kondisi M Sulhan Ajie. Bermaksud menyelesaikan ujian semester, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro malah mendapati sejumlah luka bacok, buah tangan dari begal gagal.
Pagi itu sekitar pukul 07.00 WIB, Ajie berangkat dari rumahnya yang berada di Tias Bangun 02/02, Pubian, Lampung Tengah. Mengendarai sepeda motor Honda Absolute Revo warna biru, mahasiswa Jurusan Bahasa Arab ini hendak menuju kampusnya untuk menyelesaikan ujian semester yang tengah ditempuhnya hampir setengah bulan belakangan.
Namun belum lagi sampai ke tempat yang dituju, anak ketiga dari tiga bersaudara ini malah menjadi korban kejahatan saat melintasi jalan raya di Gunungsugih, Lampung Tengah, Rabu (25/1) sekitar pukul 08.00 WIB. Laju kendaraannya dihentikan paksa dua pelaku begal di kawasan yang memang tenar rawan kejahatan itu.
Meski nyawa taruhannya, Ajie tak berdiam diri. Bungsu tiga bersaudara ini masih ingin mempertahankan sepeda motor yang dikendarainya sehari-hari. Ia pun berinisiatif membuang kunci kontak ke semak-semak dan meninggalkan motor dalam keadaan mati. Sontak, aksinya itu membuat murka salah seorang pelaku.
Kondisi wilayah yang sepi dan jauh dari permukiman, menjadi faktor pendukung para pelaku melancarkan aksi brutalnya. Alhasil, pemuda berusia 22 tahun ini pun hanya bisa pasrah saat pelaku mencacah-cacah tubuhnya dengan golok.
Puas dengan aksi bejatnya, dua pelaku langsung melarikan diri dari tempat kejadian perkara. Tanpa sempat menggasak sepeda motor berikut barang-barang berharga lainnya, begal gagal itu kabur meninggalkan Ajie dalam kondisi bersimbah darah.
Meski sekujur tubuh penuh luka dan banyak mengeluarkan darah, Ajie yang masih dalam keadaan sadar saat itu segera bangkit, berjalan kaki menuju Jalan Raya Gunung Sugih. Mahasiswa semester tiga ini pun menyetop salah satu angkutan kota yang kebetulan melintasi kawasan tersebut.
"Ya, masih berlumuran darah itu, dia langsung nyetop angkot, sendiri. Terus sama sopirnya dibantu lapor ke Polsek Gunung Sugih. Udah itu baru dia dibawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Karena dokternya nggak ada, maka dirujuk ke sini (Rumah Sakit Umum Abdul Moloek)," ujar sang kakak Abror.
Sedikitnya tujuh luka robek dengan satu luka terparah sepanjang 20 sentimeter, mengangga di punggung kiri Ajie. Kini puluhan bekas jahitan para medis Instalasi Gawat Darurat RSUAM menghiasi bagian belakang tubuh Ajie. Beruntung sepeda motor dan benda-benda berharga lain seperti dompet, tas, dan handphone miliknya masih bisa diselamatkan.
"Ya, saya nggak bisa mikir apa-apa lagi. Keluarga sudah panik. Yang penting orangnya selamat karena darahnya tadi banyak sekali, ada kali setengah ember," tutur Abror penuh khawatir.(siti nuryani)