Kamis, 11 Juni 2026

Cap Go Meh Arak-arakan Tolak Bala

Ketika sang jenderal tiba di Monterado, ia menemukan banyak warga terutama yang bekerja sebagai penambang emas menderita penyakit

Tayang:
Editor: Dewi Agustina

TRIBUNNEWS.COM, SINGKAWANG - Perayaan Festival Cap Go Meh yang merupakan even tahunan Pemerintah Kota Singkawang dan even nasional yang menarik perhatian wisatawan memiliki sejarah tersendiri. Perayaan Cap Go Meh yang dilestarikan warga Tionghoa, pertama kalinya terjadi di daerah Monterado, Kabupaten Bengkayang.

Pemerhati Budaya Tionghoa Singkawang, Thong Fuk Long (75) mengatakan, asal usul perayaan Cap Go Meh pertama kali digelar di Monterado yang terkenal dengan daerah hutan emas.

Diceritakannya, pada masa itu ada lima jenderal China merantau ke Nusantara khususnya di Kalbar. Satu di antaranya adalah Jenderal Ng Kang Sen, yang memilih ke daerah Monterado.

Ketika sang jenderal tiba di Monterado, ia menemukan banyak warga terutama yang bekerja sebagai penambang emas menderita penyakit yang sangat aneh, kesurupan/kerasukan dan tak sedikit yang meninggal dunia akibat dari wabah penyakit aneh tersebut. Karena sang jenderal memiliki ilmu yang sakti, maka ia mencoba mengobati warga setempat dengan cara mengusir roh jahat yang berada di dalam tubuh.

Fuk Long menambahkan, berkat kesaktian ilmu jenderal, warga kembali sehat setelah diobati. Sedangkan menurut Ng Kang Sen bahwa di daerah penambang emas Monterado dan sekitarnya banyak roh jahat/setan yang suka mengganggu manusia sehingga harus diadakan ritual pengusiran roh jahat atau ritual tolak bala dengan cara mendirikan sebuah altar dan menggelar arakan Tatung berkeliling tempat pemukiman dan sungai.

Kendati demikian, sebelum pelaksanaan ritual Cap Go Meh, para Tatung wajib bervegetarian. Sedangkan selama tiga tahun sekali warga yang berdomisili di daerah tambang emas harus bervegetarian atau berpuasa daging selama tiga hari pada tanggal 13-15 bulan satu penanggalan Imlek.

Dengan demikian, semenjak peristiwa gangguan roh jahat terhadap warga berhasil diusir, tradisi Cap Go Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan 1 pada penanggalan Imlek dilakukan warga setiap tahunnya pada waktu yang sama dengan harapan bisa hidup tenang tanpa adanya gangguan dari mahluk jahat lagi.

"Oleh karena itu, perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya yang dilaksanakan di Kota Singkawang bertujuan untuk mengusir roh jahat atau tolak bala agar masyarakat Singkawang senantiasa hidup damai dan terhindar dari segala gangguan roh jahat," ujar Tomidy, nama lain Thong Fuk Long kepada Tribun, Kamis (2/2/2012).

Menurut Fuk Long, satu di antara cara mengusir roh jahat yang dilakukan Sang Jenderal Ng Kang Sen waktu itu adalah dengan cara korbankan babi menggantikan manusia.

"Yakni dengan cara mengusir semua roh jahat tersebut agar masuk ke dalam daging babi sudah dipotong yang berada di altar. Kemudian daging babi itu dibagikan ke warga untuk dikonsumsi dengan keyakinan meski roh jahat tetap dimakan agar tak ganggu manusia lagi," tuturnya.

Atas kayakinan itu, maka setiap tahun altar Cap Go Meh disajikan babi diberi warna merah dan setelah ritual dan Cap Go Meh selesai, babi tersebut dipotong serta dibagikan kepada masyarakat untuk dikonsumsi bersama keluarganya di rumah.

Fuk Long melanjutkan, aktraksi yang sering dipertontonkan Tatung pada saat Cap Go Meh seperti dewasa ini di antaranya duduk di atas pedang, wajah ataupun mulut ditusuk jarum logam, melompat di atas tandu pedang, serta mengiriskan pedang ke tangan, kaki, atau tubuh tapi tidak berdarah sedikitpun termasuk unjuk kebolehan para Tatung.

Sebab, pada perayaan Cap Go Meh merupakan puncaknya hari pengusiran roh jahat bagi Tatung itu sendiri sehingga mereka ingin menunjukan kebolehannya/kekebalannya. Sedangkan musik yang dipukulkan bertujuan merangsang semangat atau spirit para Tatung," paparnya.

Sementara Tatung yang mempertontonkan makan darah binatang atau gigit ayam, babi dan anjing merupakan aliran Tatung yang kerasukan iblis. Meski demikian, menurutnya iblis yang merasuki raganya adalah iblis baik bukan yang bersifat jahat. Lalu ia mengungkapkan satu kalimat pribahasa Tionghoa.

"Sang Bui Nyin, Shi Bui Shin. Artinya, semasa hidup berbuat baik, maka setelah meninggal akan menjadi loya/sin yang merasuki tubuh manusia dan menjadi Tatung. Namun, Tatung sangat dipengaruhi oleh sifat pemilik raga (Thung Kie). Thung Kie kotor maka Shin juga kotor," ucapnya.

Kendati demikian, Fuk Long, mengatakan tradisi perayaan Cap Go Meh saat ini lebih bertujuan sebagai bagian dari budaya yang dikembangkan untuk menarik pariwisata. Apalagi Cap Go Meh Singkawang memiliki keunikan tersendiri dan tidak dimiliki oleh daerah manapun.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved