INATIN Tantang London Metal
Bursa timah bernama INATIN resmi meluncur kemarin (1/2/2012). Para pendirinya menargetkan INATIN
Laporan Wartawan Kontan, Rika Theo dan Albertus M. Prasetianta
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bursa timah bernama INATIN resmi meluncur kemarin (1/2/2012). Para pendirinya menargetkan INATIN bisa menyaingi London Metal Exchange dalam perdagangan timah dunia. Dengan begitu, bursa ini mampu menjaga harga, stabilitas kualitas, dan pasokan timah Indonesia.
Setelah dua kali diundur yaitu dari tanggal 15 Desember 2011 dan 12 Januari 2012, Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) bersama Komite Timah Indonesia akhirnya menghadirkan bursa perdagangan timah fisik pertama di Indonesia. Bursa fisik artinya transaksi jual beli menyertakan timah fisik yang langsung dikirimkan melalui pelabuhan Mentok dan Pangkal Balam di Bangka.
Sebelum perdagangan, Komite timah akan menentukan harga minimum atau suggested opening bid price. Berdasarkan harga ini, penjual dan pembeli mulai tawar-menawar melalui lelang terbuka dalam 15 menit, yakni pukul 14.30-14.45 WIB. Timah diperdagangkan dalam satuan lot yang setara 5 metrik ton. “Sudah waktunya Indonesia menjadi acuan harga timah dunia," kata Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan.
Selama ini, pebisnis timah Indonesia bergantung pada acuan harga timah di Kuala Lumpur Tin Market (KLTM) dan London Metal Exchange (LME). Sebagai eksportir dan produsen timah terbesar dunia, ironis bahwa Indonesia tak punya kendali sedikit pun atas harga timah.
Pengusaha timah hanya bisa pasrah melihat harga bak rollercoaster akibat ulah spekulan. Bahkan ketika 28 perusahaan smelter tahun lalu sepakat menghentikan ekspor, harga tak terangkat jua.
Masih sepi
Ketua Komite Timah, Wachid Usman, menegaskan, di bursa fisik akan lebih sulit melakukan spekulasi harga. "Sekarang stok di LME ada 9.000 ton, jauh dari stok normal 16.000 ton, tapi harga belum tinggi. Ini karena ada stok yang disembunyikan spekulan," tuturnya.
Seperti halnya pasar, bursa akan hidup jika banyak penjual dan pembeli. Permasalahannya, INATIN baru memiliki sembilan anggota. Lima di antaranya penjual yaitu PT Timah Tbk, PT Tambang Timah, PT Timah Industri, PT Mitra Stania Prima, dan PT Refined Bangka Tin.
Sedangkan pembeli adalah PT Gold Matrix Resources Pte Ltd dari Singapura, Purple Products Pvt. Ltd dari India, PT 3H Co Ltd dari Korea, dan satu-satunya perusahaan lokal PT Comexindo International milik Hashim Djojohadikusumo. "Kami perusahaan trading dan akan reekspor timah itu," kata Hashim.
Saat ini BKDI masih mencari anggota. "Empat lagi menunggu approval," kata Megain Widjaja, Direktur Utama BKDI. Mereka adalah PT Pelat Timah Nusantara, PT Noble Resources International Pte Ltd, Toyota Tshuho Corp, dan Danpac Capital Pte Ltd.
Penjual akan lebih sulit bergabung. Pasalnya, INATIN hanya membolehkan penjual yang menyediakan timah bersertifikat, memiliki merek, dan berkadar 99,9% atau lebih tinggi daripada kadar timah LME yang 99,86 persen. "Kualitas lebih bagus ini salah satu cara menarik pembeli ke INATIN," kata Robert J Bintaryo, Kepala Biro Perniagaan Bappebti. Tapi karena itu pula, baru dua merek yang dijual INATIN yaitu Kundur Tin dan Bangka Tin.
Perdagangan perdana INATIN pun masih sepi. Kemarin , volume transaksi hanya dua lot, dengan harga penutupan 24.500 dolar AS per ton.
Kiswoyo Adi Joe, Analis Askap Futures menilai, INATIN butuh lebih banyak produsen timah. "Setidaknya 70-80 persen produsen timah di Indonesia baru bisa mengendalikan harga," tuturnya.
Cuma, ini sulit karena pelaku timah terbelah. Asosiasi Timah Indonesia (ATI) bersikeras mendirikan bursa timah sendiri bernama Babel Tin Market (BTM). Mengenai hal ini, Ketua Bappebti Syahrul R. Sempurnajaya berkata, mendirikan bursa itu tidak murah. "Minimal modal 100 miliar dplar AS," imbuh dia.