Nasib Anas di Demokrat
Anas dan Nazaruddin Sempat Rapat Bagi-bagi Uang di Kongres
Muhammad Nazaruddin, mengungkapkan Anas Urbaningrum, sempat mengadakan rapat pemenangan pemilihan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, mengungkapkan rekannya sekaligus pemilik Permai Grup, Anas Urbaningrum, sempat mengadakan rapat pemenangan pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat. Rapat berlangsung saat kongres Partai Demokrat di Bandung, Mei 2010 lalu.
Dalam rapat itu, Nazar mengaku selaku bawahan Anas di Permai Grup, hanya sebatas menjelaskan soal kebutuhan biaya Dewan Pimpinan Cabang (DPC) agar bisa memenangkan Anas dalam pemilihan.
"Jadi begini, awalnya saya dianggil Anas itu awal Mei (2010). Di situ ada Pak Anas, Pak Hasyim (petinggi Permai Grup), sama... Nah, saya ditanya Anas, berapa kebutuhan biaya memenangkan kongres. Saya jelaskan soal biaya DPC-DPC ini. Dari mana laporannya, itu dari koordinatornya masing-masing (DPC). Lalu dibilang, dananya nanti saja. Pokoknya nanti ada diserahkan sama Yulianis (Wakil Direktur Keuangan Permai Grup) di Bandung," beber Nazar di sela-sela persidangan dirinya sebagai terdakwa kasus suap proyek Wisma Atlet, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (3/2/2012).
Seingat Nazar, dana yang digelontorkan untuk pemenangan Anas di kongres itu sebesar Rp 80 miliar. Dana sebanyak itu dibagi-bagikan orang Demokrat lainnya kepada 325 DPC masing-masing 10 ribu dolar Amerika Serikat. Untuk merangkul DPC-DPC yang mendukung pesaing Anas, Andi Mallarangeng, terpaksa harus mengeluarkan kepada mereka masing-masing 15 ribu dolar AS.
"Satu DPC 10 ribu Dolar (AS). Tapi, ada juga yang harus dikasih dua kali, di putaran pertama dan kedua. Itu DPC yang mendukung Andi Mallarangeng. Untuk mereka 15 ribu dolar (AS)," bebernya.
Sebagaimana fakta yang terungkap di persidangan Nazar sebelumnya, saksi Yulianis mengakui ikut mengakut uang Rp 30 miliar dan 5 juta dolar AS itu ke Bandung untuk acara Kongres Partai Demokrat. Sebanyak 3 juta dolar AS dari uang yang dikirim itu berasal dari sumbangan sejumlah pengusaha. Namun, ia mengaku semua itu dilakukan atas perintah Nazaruddin selaku pemilik Permai Grup.
Uang sebanyak itu diangkut dengan mobil box dan tiga mobil pribadi serta dikawal satu mobil patroli polisi. Uang itu di-drop di lantai 9 Hotel Aston, Bandung.
Sementara, Oktarina Furi yang mengaku sebagai "tangan kanan" istri Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni, sekaligus bawahan Yulianis, juga mengakui hal yang sama dan ikut bersama rombongan pengakut uang itu ke Bandung pada pertengahan Mei 2010.
Menurut Okarina, keikutsertaan dirinya dalam pengiriman uang sebanyak itu karena diminta oleh Neneng selaku atasannya. Pengiriman uang Rp 30 miliar dan 5 juta dolar AS ke acara Partai Demokrat itu dilakukan dalam dua hari.
Pengiriman pertama dengan 10 kardus rokok besar berisi Rp 20 miliar dan 5 juta dolar AS dilakukan pada 21 Mei 2012 dan Rp 10 miliar pada hari berikutnya. Uang tunai sebanyak itu dibawa dengan mobil boks dan tiga mobil pribadi ke Hotel Aston, Bandung.
"Ada Papas, Dadang, Devi, Neni, Dede, Johari, satu sekuriti, Bu Yulianis, Luthfi, yang jalan ke sana (pada pengiriman pertama)," ujar Oktarina saat sidang itu.
Tak lama 10 kotak kardus berada di kamar itu, datang seorang bernama Eva berbincang dengan staf keuangan Permai Grup, Neni Kartini. Setelah itu, sejumlah orang membawa sebagian kardus-kardus berisi uang tersebut.