Cap Go Meh di Manado-Bitung Meriah
Bau dupa di sejumlah sudut Jalan DI Panjaitan dekat Klenteng Kwan Kong dan Ban Hin Kiong di Kawasan Kampung China Manado, Senin (6/1/2012).
Laporan Wartawan Tribun Manado, Yudith R dan Christian W
TRIBUNNEWS.COM,MANADO - BAU dupa menyengat ke hidung. Bau itu muncul bersama kepulan asap putih yang ada di sejumlah sudut Jalan DI Panjaitan dekat Klenteng Kwan Kong dan Ban Hin Kiong yang ada di Kawasan Kampung China Manado, Senin (6/1/2012) sore.
Saat itu, ada seorang pria asyik menusukkan besi tipis dan sesekali memotong lidahnya dengan pedang. Pria yang berprofesi sebagai Tang Sin ini, tak mempedulikan ribuan mata yang sedang menyaksikannya.
Itulah bagian tak terpisahkan dari perayaan Goan Siau atau lebih dikenal dengan Cap Go Meh di Kota Manado. Tampak arak-arakan didominasi mereka yang memakai baju serbaputih tanpa make-up yaitu para pengurus klenteng dan sejumlah anak kecil yang berpenampilan layaknya jejeran dewa.
Ada yang berbaju selayaknya kaisar di zaman Cina kuno, ada yang beberapa anak laki-laki yang seperti pangeran yang berkuda melewati ribuan orang yang menantikan atraksi mereka sejak pagi. Selain penampilan tersebut ada juga arak- arakan berbentuk naga air, macan, barongsai hingga penampilan cantik dari anak- anak gadis yang memerankan dewi kwan im.
Michele Limogan (7) satu di antaranya. Gadis cilik ini tampak cantik berbalut busana serbaputih di perayaan Goan Siau (Cap Go Meh). Busana khas Dewi Kwan Im itu tampak melayang-layang di atas sebuah mobil yang sudah didesain layaknya sebuah bunga teratai raksasa.
Selain Michele, ada 2 dayang-dayang mendampinginya. Satu diantaranya Mishenka Awaloei (6) yang tampil tak kalah memukau dengan busana putih-pink. Mishenka termasuk peserta termuda karena masih berusia 6 tahun dan sekarang masih Kelas 1 SD MIS. "Sejak tahun lalu dia sudah ikut. Dia senang walaupun panas dan harus duduk lama tanpa pegangan," ujar Inggrit ibu Mishenka.
Ketua Paguyuban Etnis Tionghoa Hengky Wijaya, menjelaskan, umat yang ikut arak-arakan tidak sembarangan. "Kami harus puasa. Seperti saya puasa 1 bulan," katanya. Ada berbagai jenis puasa diantaranya puasa makan saja dan biasanya itu dilakukan umat. "Untuk Tang Sin puasa biasanya sekitar 3 bulan dan ada yang puasa sambil semedi tidak keluar rumah dalam kurun waktu tertentu," jelasnya.
Dikatakannya juga tahun ini ada 7 Tang Sin yang keluar dan mereka berasal dari 4 Klenteng besar yang ada di Kota Manado. "Ada 4 klenteng juga yang tidak diizinkan keluar Tang Sinnya. Inilah prosesinya harus sesuai dengan petunjuk Tuhan Sang Pencipta," tutur Wijaya.
Dijelaskannya bahwa Cap Go Meh adalah prosesi ritual keagamaan sedangkan Tang Sin adalah bagian penting dari prosesi ini. Mengapa Tang Sin penting? "Sebab Tang Sin adalah lambang duta Allah yang turun ke bumi sesuai roh yang turun kepadanya dan Ia datang untuk membasmi kejahatan," kata Wijaya.
"Ini prosesi agama yang menurut kepercayaan kami diselenggarakan pada bulan purnama pertama sesuai arti kata Cap Go Meh," tambah tokoh Tionghoa Manado ini.
Ribuan Penonton
Ada ribuan orang dari berbagai daerah di Kota Manado, Sulawesi Utara berbondong-bondong menyaksikan perayaan Goan Siau ini. Sejumlah warga bahkan mengaku sudah ada sejak siang hari bahkan ada beberapa warga luar Manado yang mengaku datang sejak pagi. "Sudah sejak pagi jam 9 sampe Manado. Penasaran mau lihat Ence Pia," ujar Christian Rorimpandey warga Amurang.
Warga pun berhampuran di setiap ruas jalan raya yang dilewati arak-arakan yaitu dari start depan Klenteng Kwan Kong ke Jalan Panjaitan, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Satsuit Tubun, Jalan Dr Soetomo, Jalan W Maramis, Jalan Siswomiharjo dan kembali ke Klenteng Kwan Kong sebagai finish. Perayaan ini berlangsung hingga pukul 19.00 Wita.
Festival Figura