- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Hindari Tentara Suriah, Perawatan Rahasia Dibuat

- Cerai, Tamara dan Mike Hindari Konflik Hak Asuh Anak
- Gubernur Sulsel Diduga Kabur Hindari Demonstrasi
- Awas! Gurita dan Bedong Bikin Bayi Sesak Napas
- Sekitar 16 Tentara Suriah Tewas DalamSerangan Teroris
- Iwing Intimi JM Sebanyak Empat Kali di Kosan
- MSF Tutup Pusat Perawatan Medis Terbesar di Mogadishu
Laporan Wartawan Tribunnews.com Yogi Gustaman
TRIBUNNEWS.COM, SURIAH - Sejak aksi sweeping diberlakukan pasukan rezim Suriah terhadap demonstran korban luka di rumah sakit umum, banyak pihak membuat fasilitas perawatan rahasia di kamar-kamar apartemen, lahan pertanian dan sebagainya. Semuanya serba sederhana.
Demikian disampaikan organisasi kemanusiaan internasional bidang kesehatan yang berpusat di Belgia, Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas lewat surat elektronik kepada Tribunnews.com di Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Presiden MSF Marie-Pierre Allié mengakui, dari pengakuan para korban dan petugas medis baik yang sudah diselamatkan di negeri tetangga dan masih bertahan di Suriah, kebanyakan korban luka dirawat di klinik buatan yang sederhana. Ini tak lain untuk menghindari aksi penangkapan petugas.
"Kamar-kamar diubah dan dilengkapi menjadi ruang operasi, disebut sebagai “rumah sakit berjalan” digunakan untuk melakukan prosedur pembedahan. Kondisi kebersihan dan sterilisasi di tempat perawatan tersebut tidak sempurna, dan persediaan obat bius pun sangat kurang," ujar Marie-Pierre Allié.
Keadaan di atas semakin diperparah oleh kebijakan rezim yang menyatakan bahwa kepemilikan obat-obatan dan alat-alat kesehatan dasar seperti kain perbah dianggap melanggar hukum. Dan pasukan keamanan terang-terangan menyerang rumah sakit 'berjalan' itu.
"Mereka masuk ke rumah-rumah untuk mencari obat-obatan dan perlengkapan medis," ujar seorang dokter kepada MSF yang meminta namanya dirahasiakan. Mereka akui keamanan, faktor penting yang menjadi pertimbangan utama para dokter bekerja di kelompok 'bawah tanah.' Tiap kali mereka harus pindah-pindah agar tak terlacak.
"Kami terus dikejar-kejar oleh petugas keamanan,” ujar salah seorang petugas medis lainnya. “Sudah banyak dokter yang kedapatan merawat pasien luka di rumah sakit-rumah sakit swasta ditangkap dan disiksa.”
Karena kerap berpindah, para dokter sangat sulit mengobati kasus trauma berat dan memberikan perawatan pascaoperasi. Apalagi, tenaga kesehatan yang bertugas secara diam-diam tak bisa dapat darah dari bank darah pusat yang dikendalikan Kementerian Pertahanan Suriah.
MSF hanya memberikan bantuan terbatas kepada rakyat Suriah yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Selama berbulan-bulan, MSF telah berupaya mendapatkan izin resmi dari otoritas setempat guna membantu korban luka di Suriah hingga kini belum berhasil.
MSF hanya dapat menangani pasien di luar Suriah, dan mendukung kelompok tenaga medis yang bertugas di negara tersebut dengan cara menyediakan obat-obatan, alat-alat medis, dan peralatan transfusi darah dan bedah
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel

