- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Petugas Keamanan Suriah Aniaya Korban dan Paramedis

Laporan Wartawan Tribunnews.com Yogi Gustaman
TRIBUNNEWS.COM, SURIAH - Rezim Suriah sudah tak malu melancarkan penindasan terhadap kelompok massa yang melakukan demonstrasi. Bukan saja mereka yang terluka di rumah sakit dan tempat perawatan, tapi juga dilakukan terhadap petugas medis yang merawat dan mengobati mereka.
Demikian disampaikan organisasi kemanusiaan internasional bidang kesehatan yang berpusat di Belgia, Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas lewat surat elektronik kepada Tribunnews.com di Jakarta, Kamis (9/2/2012).
"Di Suriah sekarang ini, para korban luka dan dokter dicari-cari oleh petugas keamanan dan beresiko disiksa atau ditangkap. Obat-obatan kini bahkan digunakan sebagai alat penindasan,” kata Presiden MSF Marie-Pierre Allié.
MSF mengakui belum bisa bekerja langsung di Suriah. Namun, soal testimoni penindasan terhadap para korban dan petugas medis disampaikan mereka. Testimoni yang dikumpulkan MSF menunjukkan adanya penindasan dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang mendesak bagi korban luka.
Saking takutnya, para korban tak berani ke rumah sakit umum. Mereka takut ditangkap dan disiksa tentara rezim Suriah. Biasanya, kalau harus dirawat di rumah sakit, mereka memakai nama samaran untuk menyembunyikan identitas.
Para dokter pun kadang memberikan diagnosis palsu untuk membantu pasien menghindari pasukan keamanan, yang terus-menerus mencari korban dengan bekas luka yang didapat dari aksi protes dan demonstrasi.
Saat ini MSF mendorong pemerintahan Suriah mengembalikan netralitas fasilitas kesehatan. rumah sakit menjadi tempat yang dilindungi, di mana semua pasien dirawat tanpa diskriminasi, serta bebas dari ancaman kekerasan dan penganiayaan.
"Rumah sakit juga harus dijadikan tempat di mana para petugas kesehatan tidak perlu mempertaruhkan nyawa mereka karena memilih untuk melaksanakan tugas sesuai kode etik professional,” tegas Marie-Pierre Allié
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel

