- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Jangan Ngaku Anak Betawi Kalau Belum Nyobain Gabus Pucung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kuliner Betawi banyak yang belum digali. Selain Soto Betawi, nasi uduk dan kerak telor, masih ada puluhan yang tersimpan. Salah satunya adalah sayur gabus pucung yang sudah jarang ditemukan. Sayuran butek kehitaman ini kaya rasa dan bisa membuat ketagihan.
Dulunya makanan ini merupakan kegemaran warga Betawi. Juga menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi masyarakat Betawi yang bernama Nyorog, yakni tradisi menghantarkan makanan oleh anak kepada orang tua, atau menantu kepada mertua setiap menjelang puasa dan Lebaran.
Saking lekatnya dalam tradisi Betawi, beberapa orang tua Betawi bilang, "Jangan ngaku anak Betawi kalo belom nyobain sayur pucung gabus". Namun, karena sulitnya mendapatkan ikan gabus sebagai bahan utama, jarang ditemukan warung makan yang menyajikan hidangan ini.
Bagi Anda yang tinggal di seputaran Bekasi, masih ada beberapa rumah makan yang menyajikan makanan khas Betawi ini. Salah satunya di Jalan Raya Pekayon, Bekasi Selatan. Nama rumah makan itu Warung Pucung, pemiliknya adalah Hj Sofiah, yang telah merintis kuliner sayur gabus pucung sejak 1981.
Warung Pucung mudah ditemukan. Letaknya persis di samping SPBU Pekayon. Bangunannya sederhana, tetapi pengunjung sangat ramai, apalagi saat makan siang atau akhir pekan dan hari libur.
Siang itu, kami pun tertarik dengan banyaknya mobil dan sepeda motor yang parkir di depan warung. Biasanya bila rumah makan ramai pengunjung pasti ada menu yang istimewa. Saat masuk warung, terlihat berjejer kursi plastik dan meja dari kayu yang menempel ke dinding bangunan rumah makan. Tampak beberapa pengunjung berseragam PNS. Rupanya mereka sedang istirahat makan siang.
Setelah mendapat tempat duduk yang kosong, kami memesan menu utama sayur gabus pucung, peyek udang dan sepiring nasi putih. Bu Hj. Sofiah dengan cekatan melayani setiap pengunjungnya. Seporsi nasi dan sepiring sayur gabus pucung plus peyek pun sudah tersaji.
Kami beruntung karena dapat bagian kepala gabus, sebab biasanya bagian kepala ini menjadi favorit pengunjung dan cepat habis. Saat disantap, daging gabus terasa lembut dan rasanya begitu kaya, ada manis, asam, pedas, asin, semua melekat jadi satu di lidah. Saking asyiknya, tidak terasa kepala gabus pun ludes, hanya meninggalkan bagian durinya.
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel


