Rabu, 10 Juni 2026

Kisah Cinta Perawat dan Pelatih Gajah

Kisah cinta mahout (perawat dan pelatih gajah) di Lampung ini boleh jadi unik.

Tayang:

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Theo Rizky

KISAH cinta mahout (perawat dan pelatih gajah) di Lampung ini boleh jadi unik. Pasangan yang kini telah melangsungkan pernikahan di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kec Ukui Kab Pelalawan, Sabtu (11/2/2012), ternyata berawal di atas punggung gajah.

Dikatakan Fikri, kisah asmara nya dimulai sejak tahun 2011 lalu. "Kita bersahabat dulu, lama kelamaan terjadilah jatuh cinta dan itu terjadi saat diatas gajah, kita pacaran waktu bawa gajah dan biasa juga bertukar pikiran" ujarnya seraya mengatakan hal itu dilakukan saat mereka mengendarai gajah masing-masing dan berpatroli bersama.

"Kalau abang liat senyumnya manis, ramah, perhatiannya pun cukup," cerita Fikri saat ia mencurahkan isi hatinya kepada Evat.

Seperti gayung bersambut, Evat ternyata mempunyai perasaan yang sama.

"Senyum nya itu tak tahan kita," katanya menggambarkan bagaimana awal ia jatuh hati kepada wanita yang kini menjadi mantan pacarnya itu.

Menurut Fikri, meski Evat masih tergolong baru menjadi mahout namun ia bekerja sangat bagus dan baik, namun setelah menikah, evat tidak akan meneruskan lagi pekerjaan tersebut,"Biarlah suami yang mencari nafkah,"

Kedua mahout ini bisa berbangga hati karena pernikahan diatas gajah mungkin belum pernah dilakukan di Indonesia. "Gajah termasuk satwa langka, kalau bisa, kita sama-sama menjaga dan melindungi, agar anak cucu kita masih dapat melihatnya," pesan pria yang telah 11 tahun menjadi mahout tersebut

Ibuda Irfan, Rohimah Pardede (63) juga mengatakan hal senada. "Mudah-mudahan rakyat indonesia terbuka matanya, lindungi gajah ini, itu saja permintaan kami, jadilah pengayom, support orang yang berjuang di hutan ini, dan satwa ini jangan dianiaya," ujarnya sambil meluapkan rasa bangganya kepada sang anak yang kini telah menempuh hidup baru.

"Luar biasa, unik sekali, se Indonesia mungkin baru ini, saya senang anak saya dibikin bgini," tutup Rohimah.

Setelah akad nikah, dengan menggunakan pakaian adat melayu, pasangan baru ini diarak mengelilingi kampung menggunakan dua gajah dewasa, satu dipakai untuk membawa pengantin, dan satu lagi untuk membawa keluarga.

Menurut Koordinator Flying Squad, Syamsuardi, pernikahan seperti ini adalah sejarah baru untuk masyarakat desa. "Ini kombinasi antara budaya melayu menggunakan gajah," ujarnya kepada tribun di lokasi pernikahan.

Diceritakannya, ide ini digulirkan untuk menyemangati Fikri. "Kalau kamu menikah, akan kubikinkan acara nikah ini pakai gajah, biar jadi penyemangat, dipikirnya aku begurau," dua minggu berselang ia menanyakan kembali, dan Fikri pun setuju.

"Lagian isu gajah kan selama ini seram terus, bagaimana kalau kali ini kita bikin romantis," kata pria yang akrab dipanggil Sam.

Dijelaskannya, pernikahan ini akan menjadi tradisi untuk teman-teman di Flying Squad yang lain, "Untuk masyarakat umum yang berminat kita juga akan senang hati mengadakannya, mungkin nantinya akan dibuatkan kereta khusus agar bisa ditarik oleh gajah, tapi itu untuk orang-orang yang tidak mengerti sama sekali tentang gajah," papar Sam.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved