- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Tiap Tahun Lebih dari 200 Ribu Orang Bercerai
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Angka perceraian di Indonesia tergolong paling tinggi di kawasan Asia Pasifik. Dalam situs BKKBN, www.bkbn.go.id, jumlah perceraian di Indonesia per tahun telah mencapai lebih dari 200.000 kasus.
Data tahun 2010 yang dirilis Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian.
Indra Noveldy, seorang Relationship Coach mengungkapkan salah satu penyebab utama tingginya angka perceraian adalah karena ketidakharmonisan antar pasangan. Banyak anggapan bahwa cinta dan romantisme dengan pasangan biasanya hanya ada pada awal-awal perkawinan.
"Padahal, baik Ibu maupun Ayah tidak boleh berhenti untuk mengambil inisiatif untuk mengembalikan dan merawat romantisme tersebut,” ungkap Indra dalam pembukaan Kompetisi Molto Mencari Ayah Romantis di Jakarta, Selasa (14/2/2012) malam.
Menurut Indra, pasangan yang ideal adalah mereka yang selain menjadi istri/suami atau ibu/ayah juga mampu menjadi partner, sahabat sekaligus kekasih bagi pasangannya. Dengan menjalankan ketiga peran tersebut, maka romantisme dapat tercipta dengan baik.
"Misalnya, saat kita menjadi partner bagi pasangan kita, saat-saat jatuh dan bangkit dalam menjalani kehidupan dapat menciptakan romantisme tersendiri. Atau saat kita menjadi sahabat bagi pasangan kita, maka kita bisa menceritakan semua yang kita rasakan, sebuah bentuk romantisme yang akan selalu dikenang. Terlebih saat kita menjadi kekasih, otomatis momen-momen romantis akan senantiasa tercipta lewat kata-kata maupun perlakuan penuh cinta yangkita berikan untuk pasangan," ungkapnya.
Nah untuk masalah romantisme ini ada fakta atau anggapan Ayah bersikap cenderung ‘cuek’ sementara Ibu dianggap terlalu ‘menuntut’. Seringkali Ayah dianggap tidak mampu menunjukkan romantisme akhirnya berujung kepada kekecewaan.
"Padahal, Ayah sebenarnya memiliki cara-cara unik untuk menunjukkan romantisme misalnya dengan mengingat hal-hal kecil tentang istrinya, menemani di saat-saat penting, mengorbankan perasaan atau kepentingannya demi sang istri, dan lain-lain," ucapnya.
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel

