Dua Peluru Bersarang di Kepala, Orangutan Ini Buta
terdeteksi bahwa luka yang ada di kepala orangutan yang diberi nama Budi tersebut adalah luka tembak.
Manajer Area Centre for Orangutan Protection (COP) Kalimantan, Arfiana Khairunnisa, pada Sabtu mengatakan, orangutan dalam kondisi terluka itu ditemukan sekelompok Praja Muda Karana (Pramuka) pada awal Februari 2012, kemudian diserahkan ke Balai Taman Nasional Kutai (TNK).
"Orangutan tersebut ditemukan pada awal Februari 2012 di Kabupaten Kutai Timur kemudian diserahkan ke Balai TNK. Saat kami cek, ternyata kondisi orangutan tersebut sangat memprihatinkan dengan luka terbelah pada telapak tangan kanan serta terdapat luka pada bagian kepalanya," ungkap Arfiana Khairunnisa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh seorang dokter hewan yang didatangkan CPO, kata Arfiana, terdeteksi bahwa luka yang ada di kepala orangutan yang diberi nama Budi tersebut adalah luka tembak.
"Kami akhirnya mendatangkan dokter hewan untuk menjahit luka yang diduga bekas sabetan senjata tajam pada telapak tangannya, sebab jika dibiarkan akan menyebabkan infeksi. Berdasarkan pemeriksaan dokter tersebut juga ditemukan dua luka tembak di kepala, satu pada bagian mata kanan dan satunya di atas mata. Kedua peluru tersebut masih bersarang di kepala orangutan itu," katanya.
Ia menambahkan, "Akibat luka tembak pada bagian mata tersebut, maka orangutan tersebut mengalami kebutaan."
Kepala Balai TNK, Asep Sugiharto, saat dikonfirmasi pada Sabtu sore mengemukakan bahwa orangutan yang terluka tersebut telah diserahkan ke Borneo Foundation Survival Foundation (BOSF) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara.
"Orangutan tersebut telah kami serahkan ke Yayasan BOSF pada Kamis (16/2) untuk dikarantina. Saat diserahkan oleh warga orangutan itu dalam kondisi terluka pada bagian tangan dan kepala," ujar Asep.
Selain orangutan dewasa yang terluka tersebut, pihak Balai TNK juga menyerahkan satu anak orangutan yang diperkirakan berusia lebih satu tahun.
"Sejak Desember 2011 hingga Februari 2012 kami menerima tiga orangutan, dua diantaranya telah kami serahkan ke Yayasan BOS untuk dikarantina, termasuk bayi orangtan itu sementara satunya sudah dilepasliarkan ke habitatnya di Kecamatan Sangkimah, Kutai Timur karena kondisinya sudah pulih," demikian Asep Sugiharto.