- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Rider Top Italia Selain Valentino Rossi Terancam Punah

TRIBUNNEWS.COM - Legenda balap motor Italia, Giacomo Agostini mengaku prihatin dengan makin meredupnya pamor pembalap-pembalap asal Italia. Padahal Italia adalah negara yang telah melahirkan 20 juara dunia sepanjang sejarah balap motor dunia.
Setelah merosotnya performa Valentino Rossi dan meninggalnya Marco Simoncelli, rider asal Italia kurang menunjukkan performa yang gemilang seperti dulu. Hanya Andrea Dovizioso saja yang menjadi rider yang bisa bersaing di papan atas musim 2011 lalu. Musim 2012, Dovizioso pindah tim ke tim satelit Yamaha, Tech3.
Pada musim ini, rider lain Italia seperti Danilo Petrucci, Mattia Pasini, dan Michele Pirro bergabung dengan tim "kelas dua" bersama dengan tim-tim CRT. Di kelas Moto2, tak banyak rider Italia yang bisa bersinar. Andrea Iannone dan Simone Corsi yang bisa bersaing di 20 besar klasemen Moto2 musim lalu.
Di pentas balap MotoGP, rider asal Italia bisa saja suatu saat mengalami putus generasi. Di mana tak ada lagi rider Italia yang berada di papan atas. Menurut Ago, legenda yang semasa jayanya sudah meraih 15 gelar juara dunia itu penyebab berkurangnya rider top asal Italia saat ini adalah karena kurangnya perhatian pada rider muda. Akibatnya sulit mendapatkan rider elit di masa berikutnya.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kita mengabaikan pendidikan. Kita tidak mengangkat para pembalap muda kita. Berbeda dengan Spanyol, mereka justru melakukan kebalikannya, ada kompetisi di semua umur dan hasilnya sudah terlihat nyata," kata Ago.
Dengan adanya ancaman kehilangan generasi pembalap hebat maka Ago menyarankan pada Federasi olahraga balap motor di Italia agar segera melakukan pembenahan. "Sekarang federasi baru menyadari kesalahannya, tapi perlu waktu untuk melakukan perekrutan baru. Di masa depan, saya harap bisa tumbuh banyak rider bagus yang bisa mencapai prestasi tinggi," katanya. (Tribunnews/mba)
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel

