Minggu, 10 Mei 2026

Pabrik Apple di Cina Langgar Peraturan

Sebuah penyelidikan independen menemukan adanya sejumlah ''isu signifikan'' di sebuah pabrik pembuat iPhone dan iPad di Cina.

Tayang:
Penulis: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM WASHINGTON - Sebuah penyelidikan independen menemukan adanya sejumlah ''isu signifikan'' di sebuah pabrik pembuat iPhone dan iPad di Cina.

Penyelidikan dilakukan Asosiasi Tenaga Kerja AS, FLA setelah diminta Apple untuk memeriksa kondisi pekerja di Foxconn setelah sejumlah laporan mengemuka terkait pelanggaran jam kerja dan keamanan yang buruk.

Apple menyatakan ''sepenuhnya menerima'' rekomendasi laporan tersebut.

"Kami berbagi dengan tujuan FLA untuk meningkatkan standar hidup dan kualitas perusahaan dimanapun berada,'' demikian isi pernyataan Apple.

Temuan sejumlah pelanggaran ini mengemuka saat CEO Apple Tim Cook mengunjungi fasilitas Foxconn.

Cook mendatangi fasilitas yang berada di Taman Teknologi Zhengzhou, tempat dimana 120.000 pekerja berada, Rabu lalu.

Serangkaian aksi bunuh diri di Foxconn tahun lalu menjadi sorotan terkait dengan kondisi pekerja di pabrik tersebut.

Bulan lalu Apple mengumumkan akan mengirimkan seorang pengawas independen dari FLA untuk mengaudit fasilitas di Cina tersebut.

Penyelidikan, yang menjadi salah satu yang terbesar yang dilakukan oleh perusahaan AS di luar negeri ini menemukan fakta bahwa para pekerja sering bekerja lebih dari 60 jam dalam sepekan dan kadang bekerja selama tujuh hari tanpa hari libur.

Pelanggaran lainnya termasuk kerja lembur yang tidak dibayar dan resiko kesehatan dan keamanan yang tinggi.

Gaji rata-rata sebulan di tiga pabrik berkisar antara US$360 atau sekitar Rp3,3 juta hingga US$455 atau Rp4,1 juta.

Foxcon baru baru ini meningkatkan gaji lebih dari 25% dan ada kesepakatan untuk mengurangi jam kerja, perlindungan gaji dan meningkatkan keterwakilan pekerja.

FLA mengatakan Foxconn sepakat untuk mematuhi standar asosiasi atas jam kerja pada Juli 2013, membawanya segaris dengan batasan hukum yang berlaku di Cina yaitu 49 jam/pekan.

Perusahaan ini akan mengontrak ribuan pekerja lagi guna mengkompensasikan kebijakan terbaru ini, demikian lapor Reuters.

Wartawan BBC di Washington melaporkan, laporan ini dianggap sebagai bentuk pendekatan baru dan transparan untuk masalah lama yaitu barang konsumen yang populer tetapi murah dibuat dengan kondisi buruk di negara-negara berkembang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved