Investasi Kalbar Tumbuh Tapi Lambat
Investasi di Kalbar pada triwulan IV-2011 tercatat tumbuh sebesar 4,3 persen, lebih lambat jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness
TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Investasi di Kalimantan Barat (Kalbar) pada triwulan IV-2011 tercatat tumbuh sebesar 4,3 persen (year on year/yoy) namun cenderung lebih lambat jika dibandingkan investasi pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Perlambatan investasi Kalbar di antaranya diindikasikan dengan melambatnya impor barang modal di Kalbar, karena pada periode laporan impor barang modal Kalbar tercatat sebesar 1,93 ribu ton lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2010 yang tercatat sebesar 2,59 ribu ton," kata Pemimpin Bank Indonesia Pontianak, Hilman Tisnawan.
Menurut Hilman, perlambatan investasi Kalbar antara lain dipengaruhi oleh perlambatan permintaan CPO dan karet internasional yang tercermin dari harga kedua komoditi yang cenderung mengalami penurunan.
Rata-rata harga internasional karet tercatat sebesar 388,43 USD Cent per kilo gram, sementara harga internasional CPO tercatat sebesar 956,07 USD per metric ton. Kondisi ini berdampak pada penggunaan kapasitas produksi maupun kegiatan investasi.
"Sama halnya dengan sisi penggunaan, kinerja perekonomian Kalbar secara sektoral juga menunjukkan pergerakan yang cukup baik. Dimana seluruh sektor tercatat mengalami pertumbuhan pada triwulan IV-2011," ujarnya.
Kinerja perekonomian pada periode laporan terutama menunjukkan pertumbuhan didorong oleh kinerja sektor pertanian, bangunan, serta perdagangan, hotel dan restoran (PHR) yang kontribusinya dari tiga sektor tersebut mencapai 4,1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kalbar pada periode laporan.
Sementara struktur ekonomi Kalbar masih didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri pengolahan. Ketiga sektor membentuk sekitar 61 persen terhadap total PDRB, sedangkan 39 persen dibentuk oleh enam sektor lainnya.
"Dengan begitu, pergerakan ketiga sektor dominan berpotensi mempengaruhi kinerja provinsi Kalbar," katanya.