Kasus Hambalang
Ruhut Desak Anas dan Andi Mundur dari Demokrat
Dugaan skandal proyek Hambalang mengalir ke Ketua Umum DPP Demokrat Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng, membuat
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Dugaan skandal proyek Hambalang mengalir ke Ketua Umum DPP Demokrat Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng, membuat Ruhut Sitompul buka suara lagi.
Ia meminta agar Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng mengundurkan diri, karena mengganggu dan menjatuhkan citra partai selama ini.
Seharusnya, kata Ruhut, Anas dan Andi memberi contoh agar legowo mundur dari Demokrat dan Kemenpora.
"Saya nggak tahu itu benar atau bohong. Tapi, seorang Nazar berani nyebut seperti itu, saya bilang sama Anas dan Andi dan yang disebut lainnya, yang tahu Anda-Anda dan Tuhan. Berbicaralah dengan hati. Siapapun yang sayang partai tenggelam sendirilah jangan ajak kapal besar. Sebaiknya mundur dari Demokrat," tandas Ketua DPP PD Ruhut Sitompul, Rabu (6/6/2012).
Demokrat, katanya, dalam posisi tersandera kasus Hambalang, Wisma Atlet dan lainnya. Akibatnya popularitas PD terus menurun. Yang seperti ini kata Ruhut lagi, kalau disandera yang kena sanksi sosial.
“Terbukti sekarang, citra Demokrat terus turun. Informasi yang saya dengar sekarang sudah sampai 10 persen. Jadi, dua elit PD itu seharusnya memberi contoh ksatria, legowo. Mundur juga orang-orang yang disebut semua itu mundur," tegas Ruhut.
Mantan Bendahara Umum PD M Nazaruddin, pembagian itu dilakukan oleh mantan pejabat Adhi Karya, Mahfud Suroso. Pria yang sudah diperiksa KPK inilah yang mengatur soal bagi-bagi fee.
"Mahfud yang bagi untuk Andi Rp 20 miliar, untuk mas Anas Rp 50 miliar, untuk teman-teman DPR itu Mahfud yang menyerahkan Rp 30 miliar," kata Nazaruddin di KPK, Selasa kemarin.
Khusus pembagian di DPR, diserahkan kepada anggota Komisi X. Termasuk para Pimpinan Banggar.
"Semua terima (pimpinan Banggar). Yang atur Mirwan Amir. Waktu itu untuk Pimpinan Banggar Rp 20 miliar. Untuk teman-teman Komisi X Rp 10 miliar," ungkap Nazar lagi.
Klik Juga: