Senin, 27 April 2026

Bom Bali juga Rampas Rezeki Pembuat Suling Kediri

Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur dikenal sebagai sentra penghasil alat musik tiup

Editor: Gusti Sawabi

TRIBUNNEWS.COM - Banyaknya perajin suling bambu di Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur tak urung membuat daerah ini dikenal sebagai sentra penghasil alat musik tiup dari bahan bambu tersebut. Namun saat ini jumlah mereka semakin berkurang hingga hampir habis.

Khamid, seorang perajin menuturkan, kondisi tersebut terjadi karena beberapa faktor. Selain karena ketatnya persaingan, berkurangnya permintaan pasar juga mempengaruhinya. Ia mencontohkan grup orkes maupun kelompok kesenian lain yang biasa menggunakan instrumen suling, kini terus tergerus zaman.

Upayanya untuk mengalihkan sasaran pasar dengan cara memproduksi suling untuk permainan anak-anak, juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Produknya malah dikalahkan oleh serbuan mainan anak-anak impor dari bahan plastik yang terjadi sejak beberapa tahun ini.

"Dulu jumlah perajin mencapai 83 orang, tapi kini menyusut tinggal tiga orang saja yang masih bertahan. Saya sendiri sempat berhenti produksi beberapa tahun," kata Khamid yang ditemui Kompas.com, Minggu (17/6/2012).

Sedangkan Kadri, perajin lainnya, sempat merasakan kejayaan usaha setelah ada investor asing yang merangkulnya. Investor itu memasarkan suling bambunya hingga ke manca negara seperti Australia. Namun sayang kini tidak berlanjut.

"Dulu sulingnya saya kirim ke Bali, lalu oleh dia dikirim ke Australia. Gara-gara ada bom Bali, pengiriman mandek total. Orangnya sudah tidak bisa saya hubungi, bahkan juru bahasanya juga tidak bisa dikontak," kata Kadri.

Baik Khamid maupun Kadri kini berupaya menjaga eksistensinya meskipun hanya mengandalkan pemasaran lokal. Setiap bulan rata-rata mereka mampu menghasilkan empat ribu suling dari berbagai jenis, seperti suling untuk gending Jawa, suling China, suling nada C, D minor, F serta G serta nada lainnya. Suling itu kemudian diambil langsung oleh para tengkulak untuk dipasarkan di beberapa daerah di Jawa Timur.

Bagi warga Gayam, membuat suling bambu bukanlah hal baru. Mereka telah mengenalnya sejak puluhan tahun silam. Pengrajin yang ada saat ini adalah penerus secara turun temurun dari pendahulunya. Umumnya, pekerjaan itu dikerjakan secara gotong royong antar anggota keluarga sebagai mata pencahariannya.

"Awalnya kapan saya gak tahu, dari dulu sudah ada. Saya menekuninya sejak tahun 1973," kata Kadri.

Bambu bahan baku yang dipergunakan tidak sembarangan, hanya bambu jenis Wuluh yang dapat digunakan. Bambu jenis ini mempunyai diameter kecil serta tipis. Jika di wilayah Kediri sudah mulai susah dicari, perajin biasanya mendatangkan dari wilayah Malang. Sementara proses pembuatannya, bambu yang sudah dipotong ukuran 30 cm - 60 cm diberi lubang tiup di salah satu ujungnya serta lubang nada di bagian ujung yang lain.

Pelubangan dilakukan dengan pisau kecil kemudian area lubang dihaluskan dengan solder. Disusul kemudian proses pencucian lalu pemberian corak. Pemberian corak dapat dilakukan dengan menggunakan politur pewarna atau dengan cara dibatik, yaitu dilakukan dengan menggambar motif dengan bara api. Cara terakhir ini membutuhkan ketelatenan tinggi.

Harga tiap jenis suling bervariatif. Untuk suling mainan atau disebut suling Doremi rata-rata dibanderol dengan harga Rp. 10 ribu per 20 biji (kodi). Sementara untuk suling instrumen musik dijual per paket dengan harga hingga Rp. 200 ribu, tergantung jumlah dan kelengkapan nada.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved