Kamis, 16 April 2026

Impor Migas Tinggi, Neraca Perdagangan Jatim Defisit

Neraca perdagangan ekspor impor Jatim di bulan Mei masih tercatat defisit.

Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Surya, Dwi Pramesti

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Neraca perdagangan ekspor impor Jatim di bulan Mei masih tercatat defisit. Nilai impor masih lebih besar dibandingkan nilai ekspor.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, ekspor di bulan Mei sebesar 1,367 miliar dolar AS, sedangkan impor 1,990 miliar dolar AS. Impor migas masih jauh lebih besar dibandingkan ekspor migas, yakni impor migas 398,09 juta dolar AS dan ekspor migas hanya 8,39 juta dolar AS.

Impor nonmigas mencapai 1,592 miliar dolar AS, sedang ekspor nonmigas 1,359 miliar dolar AS. China masih menjadi negara pemasok barang impor nonmigas paling besar hingga 344,66 juta dolar AS, disusul AS 171,33 juta dolar AS, Jepang 96,74 juta dolar AS, Thailand 92,17 juta dolar AS, dan Korea Selatan 68,73 juta dolar AS.

"Impor barang konsumsi turun 12,35 persen, impor bahan baku dan barang modal justru naik masing-masing 2,05 persen dan 14,51 persen," kata Irlan Indrocahyo, Kepala Badan Pusat Statistik Jatim di kantornya, Senin (2/7/2012).

Secara kumulatif, impor selama Januari sampai Mei 2012 naik 12,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yakni dari 8,724 miliar dolar AS menjadi 9,819 miliar dolar AS. Kenaikan ini disebabnya naiknya impor nonmigas hingga 10,05 persen.

Importasi terbesar periode Mei dibandingkan April pada komoditas biji-bijian berminyak, aluminium, bahan kimia organik, plastik, dan mesin mekanik. Secara kumulatif year-on-year terbesar pada komoditas pupuk, bahan kimia anorganik, peralatan listrik, besi dan baja.

Importasi biji-bijian terbesar berasal dari AS, India, China, Polandia, Papua New Guinea, Thailand, Australia. Komoditas ini banyak diperlukan oleh industri makanan olahan. Bahan kimia anorganik banyak diimpor dari China, India, Malaysia, Singapura, AS, Jepang.  

Irlan memperkirakan, aktivitas perdagangan ekspor-impor bulan Juni nilainya akan lebih besar lagi, dan memasuki bulan puasa Juli akan slow down.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved