Jumat, 29 Agustus 2025

Bunga Simpanan Valas Bisa Naik

Ketersediaan pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri masih menjadi masalah bagi perbankan.

Editor: Sugiyarto
zoom-inlihat foto Bunga Simpanan Valas Bisa Naik
Kontan
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketersediaan pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri masih menjadi masalah bagi perbankan.

Berdasarkan survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), pada kuartal III-2012 rata-rata cost of fund atau biaya dikeluarkan bank untuk mendapatkan dana (CoF) dan cost of loanable fund atau biaya dana yang ditempatkan untuk memperoleh pendapatan (CoLF) masih akan terus meningkat.

Berdasarkan data survei, kuartal III 2012 CoF dan CoLF masing-masing akan meningkat sebesar 0,02% dan 0,04% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada periode tersebut CoF dan CoLF naik menjadi 1,46% dan 3,25%. Kenaikan dua komponen biaya ini juga terjadi pada kuartal II 2012, yaitu CoF naik 0,07% dan CoLF 0,49%.

BI menyatakan, kenaikan komponen biaya ini mencerminkan terbatasnya pasokan valas dalam negeri. Tetapi, bukan karena likuiditas valas mengetat. Bank pemilik valas cenderung mengamankan dananya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan berjaga-jaga jika krisis ekonomi global kian memburuk.

Situasi ini menciptakan perlombaan pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas. Alhasil, bunga simpanan valas berpeluang meningkat. "Namun suku bunga kredit investasi dan kredit konsumsi valas akan semakin menurun," tulis BI dalam risetnya yang dipublikasikan akhir pekan lalu.

BI memprediksi, pada kuartal III 2012 bunga kredit modal kerja valas masih bertahan di level 6,49% dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara kredit investasi dan kredit konsumsi mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,03% dan 0,02% menjadi 6,34% dan 6,7%. Survei ini dilakukan pada 42 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dengan pangsa kredit sekitar 80% dari nilai total kredit bank umum.

Dalam survei ini BI memperkirakan, kredit baru (rupiah dan valas) pada kuartal III hanya tumbuh 10,4% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II, BI mengestimasi kredit baru tumbuh hingga 42,2%. Penurunan terbesar terjadi pada bank-bank besar. Namun perbankan optimistis kredit tumbuh 26,6% di akhir tahun. Outstanding kredit tahun 2011 sebesar Rp 2.200,09 triliun atau tumbuh 24,7%.

Direktur Treasury dan Finansial Institusion Bank BNI Adi Setianto mengatakan, sebenarnya likuiditas valas banyak dimiliki eksportir lokal. Namun dana tersebut baru masuk ke perbankan ketika terjadi pelemahan mata uang rupiah. Para eksportir juga memiliki perhitungan sendiri mengenai imbal hasil dari currency exchange.

"Untuk menjaga likuiditas kami tetap berusaha menjaga secondary reserve di posisi yang kami anggap aman," ujarnya, beberapa waktu lalu. Hal senada diungkapkan Head Treasury Bank Commanwelth Bank Indonesia Lucky Safril. Menurutnya, keterbatasan likuiditas valas dan tidak dalamnya pasar uang antarbank (PUAB) valas karena adanya conterparty limit sehingga mengutak-atik bunga simpanan valas.

"DHE memang kebijakan yang bagus tetapi kalau tidak bisa dimanfaatkan bank domestik maka valas yang masuk hanya sekadar lewat," tukas Lucky. (*)

BACA JUGA:


Sumber: Kontan
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan