Warga Merapi Cemas Air Bebeng Menyusut
Akibat kemarau yang tidak kunjung usai, pasokan air bersih dari mata air Bebang di Kabupaten Sleman,
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Obed Doni Ardiyanto
TRIBUNNEWS.COM, KLATEN – Akibat kemarau yang tidak kunjung usai, pasokan air bersih dari mata air Bebang di Kabupaten Sleman, DIY, mengalami penyusutan yang signifikan. Hal ini menyebabkan kecemasan bagi warga di lereng Gunung Merapi yang mengandalkan suplai dari mata air tersebut. Jika suplai habis, mau tidak mau, warga harus membeli ke tangki swasta di saat kondisi sedang sulit.
“Air dari Bebang terus surut sepekan ini. Tidak lagi mencukupi. Jika kemarau terus berlangsung dan tidak ada hujan kiriman, dikhawatirkan air di rumah warga akan macet total,'' tutur Kepala Desa, Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Suroso, di Klaten, Minggu (9/9/2012).
Ada sekitar 600 kepala keluarga (KK) di desanya yang mengandalkan mata air Bebeng. Desa Panggang dan Balerante juga menggantungkan kebutuhan air dari mata air itu. “Namun saat ini, pasokan air mulai menyusut drastis sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan warga,” tegasnya.
Sementara itu, warga lereng Merapi terus mengandalkan bantuan dari warga dan instansi pemerintah. Pasalnya, warga yang punya uang bisa membeli air bersih dari dropping air pihak swastra, tetapi warga yang tidak cukup uang hanya bisa mengharapkan bantuan air.
“Droping air kami harapkan terus ada sebab warga memang sudah tidak memiliki pilihan. Air bagai kami sangat penting, selain untuk rumah tangga, juga untuk bertani dan beternak, serta keperluan beribadah di masjid. Padahal harga air per tangki mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000,” jelas Purnomo (39), warga Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang itu.