Sabtu, 2 Mei 2026

Hipmi Berharap Kunjungan SBY ke AS Datangkan Investasi

(Hipmi) berharap kehadiran dan pidato orang nomor satu Indonesia ini dapat menggugah investor Amerika berinvestasi di bumi Indonesia

Tayang:
Editor: Sugiyarto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kunjungan Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke New York diharapkan dapat membawa angin segar bagi investasi di tanah air. Khususnya saat SBY hadir dalam Indonesia Investment Day di Negeri Paman Sam itu.
 
Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap kehadiran dan pidato orang nomor satu Indonesia ini dapat menggugah investor Amerika berinvestasi di bumi Indonesia. Baik itu investasi pada sektor manufaktur maupu sektor infrastruktur.
 
Namun, menurutnya, investor Uwak Sam itu mau merealiasikan investasinya dengan turut menggandeng pengusaha nasional, khususnya pengusaha lokal di daerah.

Lebih lanjut, orang nomor satu Hipmi ini juga menyampaikan akan mengupayakan masuknya investasi ke Indonesia dengan langsung menjemput bola dengan bertemu sejumlah investor di negara yang dipimpin Barack Obama tersebut. 

"Kita jemput bola investasi. Itu sudah tepat dan harus lebih sering dilakukan," ungkap Ketua umum Hipmi ini dalam pesan singkatnya, Selasa (25/9/2012).

Menurutnya upaya jemput bola investasi seperti ini harus lebih sering dilakukan untuk memperkenalkan dan mempromosikan Indonesia di mata para investor asing. Apalagi kini di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang baik. Hal ini mesti dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendatangkan investasi ke tanah air.

Namun, pesannya, perbaikan terhadap sistem dan policy harus menjadi prioritas yang juga didorong terus dilakukan. 

Kedatangan SBY ke AS untuk menyampaikan pidato di depan peserta Indonesia Investment Day. SBY mengawali pidatoya dengan mengungkapkan lima mitos tentang Indonesia yang pernah dilaporkan oleh McKinsey Global Institute, beberapa waktu lalu. 

Pertama yang menganggap ekonomi Indonesia tidak stabil. SBY tegs menepis hal itu dengan fakta pertumbuban ekonomi yang antara 4% - 6% sejak 2001, kecuali 2008, dan memiliki fundamental yang solid.
Mitos kedua tentang pemusatan ekonomi Indonesia di Jakarta, ditampik presiden dengan fakta geliat ekonomi juga terjadi di kota-kota besar lain, seperti Surabaya dan Medan secara signifikan. SBY juga menangkis mitos ketiga yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong sepenuhnya oleh ekspor, seperti negeri-negeri "macan asia" lain. Presiden bilang, ekspor bagi pertumbuhan ekonomi kurang dari 50%.

Presiden juga menyampaikan fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak terdorong konsumsi domestik dan investasi, untuk menyingkirkan mitos bahwa ekonomi Indonesia tergantung sepenuhnya pada sumber daya alam.
Terakhir, mitos yang mengatakan bahwa perekonomian Indonesia tertopang oleh banyaknya angkatan kerja ditangkis SBY dengan mengatakan bahwa produktivitas justru merupakan kunci utama. Oleh karena itu pemerintah mengalokasikan 20% anggaran pemerintah untuk pendidikan.

SBY juga mengungkapan bahwa pemerintah telah selesai menyusun sebuan "visi ekonomi" yang disebut dengan istilah master plan. Jika rencana induk itu berhasil diterapkan sepenuhnya, maka pada 2025 mendatang pendapatan per kapita masyarakat akan meningkat menjadi lebih dari US$ 15.000 per tahun.

Master plan tersebut, masih menurut SBY, terdiri dari 22 macam aktivitas utama yang terintegrasi delapan program. Salah satu program satu yang paling hangat dilaksanakan adalah kebijakan yang mengharuskan seluruh bahan mineral harus diolah di dalam negeri sebelum diekspor. 

Nah, agar seluruh rencana bisa terlaksana dengan baik, paling tidak pemerintah membutuhkan investasi senilai US$ 437 miliar. "Sebanyak 65% merupakan kontribusi BUMN dan swasta. Silakan tinjau master plan kami dan masuk pada bisnis yang saling menguntungkan," ajak SBY. (*)
BACA JUGA:
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved