Marsel Dianiaya dan Disetrum Berkali-kali oleh Oknum Polisi
Marsel Kaeng (16), seorang siswa kelas 2 SMK Perintis Manado mengaku dianiaya dengan cara dibogem, dihantam pakai balok kemudian disetrum
Laporan Wartawan Tribun Manado, Arthur Rompis
TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Marsel Kaeng (16), seorang siswa kelas 2 SMK Perintis Manado mengaku dianiaya dengan cara dibogem, dihantam pakai balok kemudian disetrum berkali-kali oleh oknum anggota Polres Sario.
Akibatnya, warga Kelurahan Sario Utara Lingkungan Dua Manado ini menderita luka di dada, punggung serta kedua tangan dan kaki. Peristiwa ini berlangsung di Polsek Sario, Jumat (2/11/2012) pekan lalu sekitar pukul 03.00 Wita.
Marsel yang dijumpai bersama omanya, Meyti Wuisan di rumahnya menyatakan, kejadian itu berawal ketika ia dan sepuluh rekannya tengah menggotong seorang rekannya yang kena panah wayer.
"Waktu itu ada mobil patroli, kami langsung minta tolong untuk membawa rekan kami ke rumah sakit, komandan yang ada di situ setuju," tuturnya.
Setiba disana, oleh salah satu anggota polisi mereka diajak ke Polsek Sario untuk dimintai keterangan. Di Polsek, mereka diminta berbaris disusul perintah untuk menanggalkan baju.
Marsel yang berada di bagian tengah, tiba-tiba ditarik oleh seorang petugas dari dalam barisan menuju salah satu ruangan. Sebelum masuk ruangan, ia sempat diancam salah satu anggota dengan pistol.
"Katanya co nga lari, ta tembak pa ngana," tuturnya.
Ternyata gertakan itu hanya pembuka. Di dalam ruangan itu, ia didudukkan pada sebuah kursi. Dengan tangan terikat, ia menjalani interogasi.
"Waktu itu saya disuruh mengaku sebagai orang yang melakukan perusakan di salah satu supermarket, tapi saya bilang bukan saya pelakunya," sebutnya.
Tak puas dengan jawaban itu, seorang anggota polisi kemudian mulai memukulinya. Pukulan terus datang sesering kata "tidak' yang diucapkan Marsel. Tak puas memukul, anggota Polsek yang berjumlah tiga orang itu kemudian membawanya ke sebuah kolam. Dicelup sekali ke dalam kolam, kepalanya kemudian dihantam dari belakang dengan balak.
"Waktu itu saya langsung pingsan," tuturnya.
Ketika tersadar, Marsel terkejut. Berada di tempat duduk semula, sebuah benda menyerupai kabel tampak melilit di tangannya. "Setelah itu saya disetrum berkali-kali agar ngaku," katanya.
Tak mengaku juga, ia kemudian dibiarkan saja di kursi itu. Sebelum meninggalkan ruangan, seorang anggota sempat menempelkan lakban di bibirnya serta menutup kedua matanya dengan secarik kain.
Beberapa saat kemudian, dari ruangan itu terdengar suara omanya. "Waktu itu, ingin teriak tapi tak bisa," katanya.