Gita Wirjawan: Dana Riset di Indonesia Masih Ecek-ecek
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengeluhkan minimnya dana riset, yang membuat Indonesia kesulitan bersaing dengan negara lain di Asia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengeluhkan minimnya dana riset, yang membuat Indonesia kesulitan bersaing dengan negara lain di Asia.
Menurut Gita, dana riset di Indonesia hanya mencapai 0,8 persen dari APBN. Padahal, dana porsi untuk riset minimal tiga persen dari APBN. Sehingga, pemerintah perlu merangkul swasta untuk mengembangkan riset berbasis teknologi.
"Ini masih ecek-ecek. Kami butuh dana tambahan, makanya kami dukung insentif pajak bagi perusahaan yang mau mendanai riset," kata Gita di Jakarta, Sabtu (18/5/2013).
Insentif pajak, lanjutnya, bisa digunakan bagi perusahaan yang mau melakukan riset pengembangan teknologi di Indonesia. Tentunya, perusahaan tersebut harus berinvestasi lebih dulu di Indonesia, dan bersedia mengembangkan hasil penelitiannya di Tanah Air.
"Kalau kami dukung riset, maka akan bisa mengembangkan teknologi di Tanah Air. Proses riset enggak gampang, karena butuh trial dan process," tutur Gita.
Ia juga menyatakan, riset menjadi salah satu alasan bagi Samsung, perusahaan elektronik asal Korea Selatan, berkembang. Dalam 10 tahun ke belakang, Samsung belum dikenal masyarakat, namun perlahan Samsung mampu menjadi pemain penting dalam industri elektronik di dunia.
"Korea sangat mendukung riset. Samsung merupakan salah satu contoh dari kemajuan industrinya. Dari yang enggak tahu apa-apa menjadi terkenal. Maka, intinya adalah arah kebijakan pemerintah jelas dalam mendukung kemajuan industrinya," papar Gita. (*)