HTI Samarinda Gelar Aksi Tolak Kenaikan BBM
Rencana pemerintah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) mendapat tentangan kelompok masyarakat.
Laporan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto
TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Rencana pemerintah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) mendapat tentangan kelompok masyarakat.
Di Samarinda, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi damai di simpang Mal Lembuswana untuk menolak rencana kenaikan harga BBM.
Aksi yang berlangsung Minggu (19/5/2013) sekitar pukul 16.30 diikuti ratusan massa HTI. Kaum pria dan wanita tampak membentangkan spanduk besar berisi penolakan kenaikan BBM.
"Menaikkan BBM merupakan kebijakan dzalim karena akan menyengsarakan rakyat," ujar Hamdani Abu Ridho, dalam siaran persnya.
Berdasarkan Sensus Ekonomi Nasional (Susenas) 2010, 65 persen pengguna BBM bersubsidi berasal dari kalangan kelas bawah dan miskin. Sementara, 27 persen lainnya merupakan kelas menengah. Sedangkan 8 persen sisanya digunakan kelas atas dan orang kaya.
"Menaikkan BBM di tengah kesulitan hidup seperti ini dapat memicu timbulnya gejolak sosial. Gejolak tersebut bukan tidak mungkin berkembang menjadi revolusi sosial. Jadi HTI tegas menolak kenaikan harga BBM," sebut Hamdani.
Diketahui, pemerintah berencana mengurangi subsidi BBM hingga Rp 21 triliun. Ini dilakukan guna menekan jebolnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akibat terus meningkatnya alokasi subsidi BBM. "Tapi nyatanya APBN tidak pernah terserap semua. 2012 masih ada sisa Rp 32,7 triliun," tegas Hamdani.