Presiden Obama puji pemimpin Burma
Presiden Barack Obama memuji Presiden Burma Thein Sein dalam upayanya melakukan reformasi politik dan ekonomi di negaranya.
Presiden Barack Obama memuji kepemimpinan Presiden Burma Thein Sein dalam melakukan reformasi politik dan ekonomi di negaranya.
Dia mengutarakan hal itu setelah Thein Sein menjadi pemimpin Burma pertama yang mengunjungi gedung Putih semenjak 1966.
Untuk pertama kalinya, Presiden Obama menyebut negara Myanmar, nama pengganti Burma yang digunakan oleh penguasa militer pada 1989.
Namun, Presiden Obama menyatakan 'keprihatinan mendalam' atas kekerasan yang dialami etnis minoritas Muslim di Burma.
Dalam pidatonya, dia mengakui Presiden Thein Sein telah melakukan upaya yang tulus untuk menyelesaikan ketegangan etnis di negerinya, namun dia menambahkan: "Pemindahan secara paksa warga, kekerasan yang ditujukan terhadap mereka harus dihentikan."
Presiden Thein Sein, melalui seorang penerjemah, mengakui Burma memiliki banyak tantangan dan "demokrasi terus berkembang ... kita harus bergerak maju, dan kita harus melakukan reformasi politik dan reformasi ekonomi".
Wartawan BBC, Paul Adams, di Washington melaporkan Presiden Obama jelas menyadari kritikan terhadap kunjungan Thein Sein dan pertemuan di Gedung Putih yang digambarkan berlangsung ramah tetapi tidak berlebihan.
Tapi fakta bahwa telah terjadi perubahan di Burma adalah sebuah langkah maju dan Obama menganggapnya sebagai kisah keberhasilan Burma, tambah wartawan BBC.
Sangat prihatin
Kelompok hak asasi manusia telah menuduh Presiden Obama bergerak terlalu cepat untuk merehabilitasi Burma setelah selama ini dikuasai pemerintahan junta militer.
Jennifer Quigley, dari kelompok LSM Kampanye AS untuk Burma, mengatakan "Pemerintahan Obama mengabaikan adanya kejahatan kemanusiaan pasukan keamanan Burma terhadap etnis dan agama minoritas di Burma."
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Joe Crowley, mengatakan "sangat prihatin dengan fakta yang terjadi di Burma, termasuk adanya pelanggaran HAM terhadap etnis minoritas."
Tetapi pemerintah Amerika Serikat mengatakan kunjungan ini merupakan komitmen untuk membantu pemerintah yang telah membuat keputusan penting untuk melakukan reformasi.
AS telah memuji perubahan di Burma, termasuk pembebasan para pembangkang politik dan mengurangi tindakan sensor, yang ditandai berakhirnya sekitar 50 tahun kekuasaan rezim militer pada 2011 dengan mendirikan pemerintahan sipil.
Thein Sein merupakan kepala pemerintahan yang terpilih dalam pemilu pertama dalam dua dekade pada November 2010 lalu.