ABC World

Manfaat Menguasai Lebih Dari Satu Bahasa

Bila anda menguasai lebih dari satu bahasa, maka anda boleh dibilang beruntung. Tidak saja itu bagus bagi kerja otak, namun belajar…

Bila anda menguasai lebih dari satu bahasa, maka anda boleh dibilang beruntung. Tidak saja itu bagus bagi kerja otak, namun belajar bahasa baru juga bermanfaat bagi kesehatan mental.

Penguasaan lebih dari satu bahasa dalam penelitian menunjukkan manfaat secara emosional dan kognitif. Penelitian menunjukkan mereka yang menguasai lebih dari satu bahasa memperlambat Alzheimer's dan dementia dan juga meningkatkan fungsi mental pada umumnya.

Namun mungkin saja ada manfaat kesehatan mental lainnya yang penting, dan inilah yang sekarang sedang diteliti. Beberapa orang mengatakan bahwa belajar sebuah bahasa baru akan  membantu mengatasi depresi. Otak mereka yang dwibahasa  (ABC)
Otak mereka yang dwibahasa (ABC)

Di Australia, sekitar lima juta orang berbicara satu bahasa lain, selain bahasa Inggris. Bahasa lain yang paling populer adalah Mandarin (1,6%), Italia (1,4%), Arab (1,3%), Cantonese (1,2%), Yunani (1,2%) dan Vietnam (1,1%) (data sensus 2011). Kemampuan berbicara lebih dari satu bahasa ini  memungkinkan mereka berpartisipasi dalam kegiatan keluarga dan masyarakat, dan pada gilirannya membuat mereka merasa lebih puas.

Multilingual mural (Flickr CC: Liz Henry)
Multilingual mural (Flickr CC: Liz Henry)

Jauh sebelum adanya migrasi warga Eropa ke Australia di abad ke-18, ada sekitar 330 bahasa aborijin. Sekarang ini hanya tinggal 13 bahasa yang aktif digunakan.

Penelitian Professor Ghil'ad Zuckermann, Kepala Lab Bahasa Yang Hampir Punah di University of Adelaide, memfokuskan diri pada memahami pentingnya hubungan antara bahasa, dan kesejahteraan sosial dan personal.

"Penelitian di British Columbia, Kanada menunjukkan adanya korelasi antara kurangnya penguasaan bahasa di kalangan penduduk asli aborijin, dengan tingkat bunuh diri di kalangan anak muda. Di komunitas dimana bahasa asli semakin hilang, tingkat bunuh diri di kalangan anak muda meningkat." kata  Professor Zuckermann.

Hilangnya bahasa tradisional karenanya berpengaruh besar terhadap kesehatan mental, dan mempertahankan serta menghidupkan kembali bahasa yang hampir mati karenanya akan memberikan dampak positif. Sejak tahun 2011, Professor Zuckerman sudah bekerja sama dengan komunitas  Barngarla di Semenanjung Eyre Peninsula di Australia Selatan untuk menghidupkan kembali bahasa tradisional mereka.

Saya melihat secara kualitatif bahwa bahasa yang dihidupkan kembali sering memberi kekuatan kepada mereka yang terlibat. Ini memperkuat jiwa seseorang dan meningkatkan kebanggaan, harga diri, dan rasa memiliki budaya diantara mereka.

"Sejauh ini tidak ada studi kualitatif yang dilakukan secara sistematis untuk melihat dampak darii bahasa yang dihidupkan kembali terhadap kesehatan mental, kesejahteraan pribadi, dan tingkat bunuh diri. Ini mungkin karena penghidupan kembali bahasa masih jarang dan baru dimulai." kata  Professor Zuckermann .

"Namun saya berencana untuk melakukan penelitian kualitatif, sehingga kita bisa meningkatkan pendekatan mengenai bahasa yang dihidupkan kembali dan mengkaji dampaknya terhadap individu dan komunitas.

Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved