Bea Cukai Ngurah Rai dan Australia Border Force Tegah Bahan Baku Sabu Tujuan Australia

Bea Cukai Ngurah Rai selenggarakan konferensi pers terkait penegahan terhadap 6 paket barang kiriman berisi 600.000 butir pil

Bea Cukai Ngurah Rai dan Australia Border Force Tegah Bahan Baku Sabu Tujuan Australia

Bea Cukai Ngurah Rai selenggarakan konferensi pers terkait penegahan terhadap 6 paket barang kiriman berisi 600.000 butir pil mengandung Pseudoephedrine seberat 138 kg brutto, pada Senin (16/07).

Penegahan terhadap keenam paket barang kiriman asal Korea Selatan dengan rute Seoul-Denpasar-Melbourne tersebut berhasil dilakukan berkat sinergi dan koordinasi antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), ABF dan instansi terkait.

“Penegahan dilakukan pada tanggal 13 Januari 2018 berdasarkan informasi ABF, yang diteruskan dari informasi intelijen, bahwa akan terdapat paket kiriman dengan tujuan akhir Australia transit Denpasar berisi Prekursor atau bahan baku pembuat Methamphetamine atau Sabu yang diberitahukan sebagai Health Food,” jelas Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi, dalam konferensi pers di Aula Kantor Bea Cukai Ngurah Rai, yang juga dihadiri oleh perwakilan Kepolisian Daerah Bali, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali, dan Australian Border Force (ABF).

Berdasarkan Pasal 29 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 12 dan 18 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor, Bea Cukai berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap prekursor termasuk melakukan penjagaan Prekursor yang transit di wilayah Indonesia dengan tujuan pengiriman negara lain yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku, atas dasar tersebutlah penegahan akhirnya dilakukan.

“Investigasi yang dikembangkan oleh ABF terhadap paket kiriman dengan rute pengiriman Seoul – Denpasar – Melbourne tersebut menunjukkan adanya dugaan paket kiriman tersebut berisi Prekursor yang tidak dideklarasikan pada packing list dan penerima paket kiriman tersebut tidak dilengkapi izin impor Prekursor ataupun sedang dalam proses pengurusan izin impor Prekursor. ABF kemudian berkoordinasi dengan Bea Cukai agar Bea Cukai dapat menegah paket kiriman tersebut di Denpasar. Menindaklanjuti koordinasi tersebut, petugas Bea Cukai Ngurah Rai segera melakukan penegahan dan pemeriksaan mendalam atas paket barang tersebut.”

Diketahui bahwa paket kiriman terdiri dari enam koli dengan berat total 138 Kg brutto dan nomor pengiriman masing-masing EG218129578KR, EG218129564KR, EG218129581KR, EG218129595KR, EG218129604KR, dan EG 21812961KR.

“Dari hasil pemeriksaan, dalam paket-paket tersebut, petugas menemukan enam kotak yang masing-masing berisi 100 botol berlabelkan CODANA dan di tiap botolnya berisikan 1000 tablet mengandung Pseudoephedrine,” papar Heru.

Dari hasil pemeriksaan label yang tertera pada kemasan, CODANA disebutkan sebagai tablet yang diperuntukan untuk mengatasi bersin-bersin dan pelega hidung tersumbat.

Penegahan ditindaklanjuti dengan mengirimkan sampel ke laboratorium yang dikelola oleh Bea Cukai di Surabaya, BPIB Tipe B Surabaya, pada tanggal 14 Januari 2018 dan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa tablet tersebut positif mengandung Pseudoephedrine.

“Hasil uji lab mengkonfirmasi bahwa kandungan tablet terdiri dari Pseudoephedrine HCL sebesar 60 mg serta Tripolidine HCL sebesar 2.5 mg,” tambahnya.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help