Kisah Maya Tamara Membesarkan Namarina Hingga Memiliki Ribuan Siswa

Selasa, 27 September 2016 09:04 WIB
Kisah Maya Tamara Membesarkan Namarina Hingga Memiliki Ribuan Siswa

Mengelola lembaga pendidikan hingga bertahan selama 60 tahun jelas diperlukan disiplin, kerja keras, juga kejujuran. Tiga nilai itu dipegang teguh oleh sang pendiri, almarhumah Nani Lubis yang kini diteruskan oleh Maya Tamara, dalam membesarkan Namarina. Tak heran, Namarina mampu melewati pasang surut, hingga akhirnya menjadi ‘ikon’.    

Dituturkan Maya, Namarina sendiri memiliki arti ber-ibu dari bahasa Tapanuli. Sang pendiri, almarhumah Nani Lubis, berasal dari Tapanuli Selatan. Ina memiliki arti ibu, dari awal kata inang, hingga kemudian dinamai Namarina. 

“Tapi saya tak pernah tanya artinya. Ibu saya namanya Nani, Na. Ma, Maya, saya sendiri. Ri, kakak saya Risya, Na, kakak saya yang pertama Nasya. Bisa juga disambung ke situ, ini opini saya. Tapi memang ibu memberi nama Namarina untuk sekolah ini,” ucap Maya, yang mendapat “Elementary Certificate” dari Royal Academy of Dancing (RAD) di Singapore pada 1975.

Namarina didirikan di Jl Cimahi.Salah satu murid Namarina pertama yakni Fatmawati Soekarnoputri.

Namarina didirikan dengan visi mulia menjadikan masyarakat sehat, cerdas, dan memiliki daya tahan.  “Senam dan balet membuat kita lebih cerdas, punya empati terhadap sesama, itu terasa sekali terhadap sesama, hal-hal itu tertanam banget di kami,” ujar Maya. Seiring waktu, tak cuma senam, ada balet, jazz, hingga aerobik.

Maya sendiri menempuh pendidikan di Royal Acedemy of Dancing, London, sejak 1978, mengambil jurusan guru tari. Ia menceritakan, seseorang ketika ketika sekolah tari, selalu ada dua pilihan. Menjadi penari atau guru. Ia kemudian memilih menjadi guru karena darah pendidik sang ibu memang menurun ke dirinya. “Dari remaja saya memang sudah ingin mengajar,” ucap Maya. 

Pada bulan Februari 1981,  Maya menjadi orang pertama dari Indonesia yang lulus dari dari The Royal Academy of Dance dan kembali bergabung dengan Namarina dan menjadi Artistic Director. Ia mulai menciptakan karya tari baik classical ballet maupun modern jazz. Sampai saat ini sudah begitu banyak karyanya yang dipentaskan.

Memperbaiki Organisasi
Kepergian sang ibunda pada tahun 1993 mengubah jalan hidup Maya. Ia, kemudian meneruskan mengelola sekolah Namarina dari sang ibu karena saudaranya yang lain lebih senang dengan bidang lain. Kini, murid Namarina mencapai 2000-an lebih. Namarina, kata Maya, didirikan  bukan semata bisnis namuan kecintaan sang ibu terhadap dunia seni. Di masa kepemimpinannya, prinsip manajemen organisasi secara profesional benar-benar diterapkan. Struktur organisasi dibuat tertata rapih dengan memiliki penanggung jawab di masing-masing bidang, mulai balet, senam, hingga jazz.

Ini dilakukan karena ia sudah mantap bahma Namarina tak ingin dikenal sebagai perusahaan milik keluarga. Apalagi, ia memang memang tidak memiliki anak perempuan seperti sang ibu memiliki dirinya.  Ia menguatkan manajemen supaya ke depan Namarina dapat dijalankan oleh orang yang punya passion dan memang benar-benar ingin mengembangkan Namaria.    

Tak dipungkiri, ada kesulitan di masa transisi. Ia yang berlatar pendidikan cukup kagok mengatur manajerial. Karena sebelumnya praktis semua dikerjakan semua oleh sang ibu. Dari urusan mengajar, penerimaan murid, uang iuran, sampai ketika akan pentas pun, dari keperluan baju diurus sendiri.

“Dulu, ibu mengerjakan sendiri, benar-benar amazing. Pernah ketika mau pentas, ibu bikin pola sendiri, gunting pola sendiri, sampai tangannya penuh blister. Dengan perkembangan jaman tentu tidak mungkin seperti itu lagi, sekarang mulai administrasi hingga akademik ada masing-masing yang mengurus, “ucap Maya, 

Penerapan manajerial yang lebih rapih juga yang membuat Namarina secara perlahan berhasil mengembangkan cabang. Dua tahun awal di era kepemimpinan Maya, pada 1995 dibuka cabang Halimun, di Tebet. Setelah itu dibuka di Grogol, Jakarta Barat, hingga ke Bintaro, Tangerang Selatan.

Kata Maya, sebelum sang ibu meninggal, Namarina memang sudah memiliki cabang di Gandaria Tengah, Kebayoran Lama. Berdiri di atas rumah yang kemudian diubah menjadi gedung tiga lantai. “Sementara studio pusat yang berada di jalan Halimun ini, berdiri setelah ibu meningal,” ucapnya.

Menjaga kualitas dan sistem nilai
Meski Namarina sudah menjadi ikon, namun ia tak ingin membuka cabang dengan sembarangan demi menjaga kualitas dan mutu sekolah. Baginya, Namarina bukan seperti franchise makanan cepat saji. Siapa punya uang bisa buka usaha. Ia akan terlebih dahulu melihat keseriusan calon rekan usaha itu sekaligus menyiapkan sistem pendukung. Kepala cabang pun diutamakan alumni Namarina yang sudah cukup lama dan menguasai bidang tari, ballet, hingga jazz. 

Ia bersyukur, perkembangan cabang-cabang Namarina, di luar Halimun, seperti di Bintaro, Tebet, Pondok Indah, Duren Sawit, hingga yang paling anyar di Pantai Indah Kapuk,  tetap bagus.Memang, dirasakan dalam dua tahun terakhir ini relatif melambat karena faktor penurunan daya beli masyarakat.

Namun, dengan diterapkannya manajemen, Namarina tetap bisa bertahan bahkan tidak perlu sampai mengurangi karyawan. Baginya, perlambatan ekonomi justru memacu lebih semangat membuat networ dan menghasilkan karya. Sehingga ketika menang lomba, akan ada promosi gratis karena banyak diulas media, dibincangkan media sosial,  online, hingga koran. “Itu jadi promosi sehingga orang kembali mengingat Namarina,” ujarnya.

Kolaborasi dengan suami, menurut Maya, juga jadi salah satu faktor penting Namarina terus eksis. Ia mengakui, di masa awal memimpin, belajar manajemen otodidak sambil membuka catatan-catatan milik sang ibu. Sikapnya yang punya rasa ingin tahu besar juga mendorong ia cepat mengerti bagaimana mengelola lembaga pendidikan.

“Suami saya juga banyak membantu dan memperluas wawasan saya di luar bidang tari dan kebugaran, karena semua buku Ia baca. Buku manajemen, budaya, musik, dan kadang-kadang lebih pintar misal mengenai lighting, stage, karena dia banyak baca. Kalau saya lagi malas baca, didonggengin suami, jadi pengembangan bisnis memang banyak belajar dari suami,” ujar Maya.  

Maya punya prinsip, setiap komitmen harus dibuktikan tidak hanya sekadar bicara. Harus dirasakan oleh member Namarina.  Karena menjaga nama baik harus dibuktikan dengan perbuatan. Setiap menjalankan bisnis, kata Maya, harus punya roh spirit agar
berhasil. 

“Bukan saya jumawa, karena dibekali ilmu, how to run bussines in education, jadi saya bisa melahirkan penari-penari yang baik. Satu hilang tumbuh seribu. Di pengajar kalau sudah keluar kita bentuk baru. Memang capek, tapi capek terbayar kalau bisa mendidik orang lebih baik,” ujarnya.

Maya menilai saaat ini, sekolah-sekolah balet terkesan asal buka dan terlalu ke teknis tanpa melihat perkembangan psikologi, anatomi, dikarenakan pengajar tidak punya kualifikasi. Kata dia, kalau orang tua mau menyekolahkan balet, tolong dilihat gurunya terlebih dulu. Jangan hanya the school next door.

Salah satu cita-cita Maya yang masih terus diperjuangkan yakni mendirikan Sekolah Kejuruan. Ia yakin, ke depan, sekitar 20 tahunan lagi, bisnis seni pertunjukan akan booming sehingga lulusannya akan banyak dibutuhkan. Mulai dari menjadi pekerja seni sebagai penari, koreografi, pemusi, penata panggung, ;lighting dan sound sampai managemennya. 

Sebagai Ketua Lembaga Sertifikasi Senama Indonesia, ia optimis pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan merespons positif keinginannnya mendirikan Sekolah Kejuruan. “Saya ingin pada 2020 bisa terwujud. Membuat sekolah memang harus memikiran banyak faktor, antara lain kurikulum, pengajar dan managemen yang berkualitas,” ucapnya.

Namun, ia belum bersedia merinci dimana kira-kira sekolah itu dibangun. Hanya, ia  berharap sekolah itu tak jauh dari Jakarta, bisa juga di seputaran Bumi Serpong Damai, Serpong.  “Kami tunggu BCA dulu dong, di mana bagusnya,” seloroh Maya, yang sudah menjadi nasabah BCA hampir 10 tahun.

Kejujuran, disiplin dan kerja keras selalu ditanamkan di Namarina. Hal-hal kecil, misalnya jika punya salah, pertama minta maaf dulu karena merupakan etik.. Tak heran, kata Maya, sampai ada seorang fashion designer mengatakan,  kalau mau masuk Namarina itu niatnya harus baik. Ia senang, sistem nilai itu, tertanam dari generasi ke generarasi. Jika etik baik, akan menular ke sesama. “Etika itu nomor satu dalam berperilaku maupun dalam bekerja,”ujarnya.

Tanpa kedisiplinan akan sulit menerapakan sinergi dalam bekerja. Ia merasa, apa yang diberi sang ibu, dengan menerapkan sistem nilai di Namarina juga sangat terasa sehingga jadi pembeda dengan sekolah lain. Namarina tidak show of force gerakan-gerakan.

“Tapi teknik kita itu well done, bagus. Misal di lomba. Makanya juri juga melihat kalau di kategori satu, tidak harus sangat fleksibel seperti orang dewasa, tapi ketika di kategori empat, itu kelihatan. Selain teknik tadi, juga yang bisa membuat Namarina bertahan kreatifitas itu yang tidak habis, karena dituntut pentas tiga kali dalam setahun. Karena akan masuk usia 60 tahun, kami akan empat kali pentas. Jadi, kita dibuat wake up terus sama Tuhan,” ujar Maya, yang berhasil mengubah persepsi bahwa balet kini tak hanya milik orang kaya. 

Maya, yang masih ikut mengajar untuk kelas dewasa, mengakui bahwa menjalankan bisnis harus selalu enerjik agar memberi semangat ke bawahan.  Itu juga ditularkan ke anak-anaknya. Namun, ia tak ingin terburu-buru mengajak sang anak langsung membantu Namarina namun lebih diarahkan mengembangkan networking jaringan dulu di luar negeri sambil belajar.

“Anak saya nanti kalau sudah punya pengalaman di luar dia ingin juga masuk ke sini, untuk bantu manajerial, bantu di akademik, tapi biar mereka belajar dulu di tempat lain, kasihan kalau langsung dicemplungin,” katanya.

Ia memiliki berbagai musik yang berkesan selama Ia mengajar, aantara lain Sherina dan sang adik, Maura.  Sherina bergabung dengan Namarina sejak usia 4 tahun, tak heran album-albumnya sering disisipkan tarian-tarian belet. Juga, Agnes Monica yang dinilai Maya memiliki kemauan yang keras. Juga artis baru Kimberly Ryder, yang sejak kecil belajar balet di Namaria.  Artis kawakan yang juga dilatihnya antara lain almarhum Eva Arnaz, Titik Sandora, hingga Muksin Alatas.  

Maya menilai, perkembangan Namarina juga seiring selaras dengan dukungan yang diberikan BCA. Baginya, BCA benar-benar services bank. Layanan dan kemudahan yang diberikan BCA jauh melebihi bank-bank lain.

“Saya rasa services BCA lebih baik. Kalau ada info terbaru diberitahu, ada program terbaru dapat notifikasi,” ujar Maya yang lebih banyak menggunakan layanan Klik BCA Bisnis, dan lebih senang menggunakan layanan mobile banking. 

Ia berharap, ke depan kontribusi CSR BCA juga bisa diarahkan lebih banyak ke bidang seni. Seni, diyakini Mata lebih dahulu dari ilmu pengetahuan karena semua bentuk penemuan di dunia, mulai dari energi, gadget, mobil dan lain lain bermula  dari imajinasi. “Kenapa Korea maju, dulu ketika saya sekolah balet, mereka menyekolahkan generasi mudanya, ke Inggris ke Amerika, biaya pemerintah semua. Tiga puluh tahun kemudian terbukti mereka mampu memimpin, sementara pemerintah itu membangun gedung bukan people.  Jadi marilah kita bangun bangsa ini menjadi bangsa yang sehat dan kuat melalui generasi  mudanya,” pesan Maya.  

BCA Senantiasa di Sisi Anda
(Berita BCA)
BCA Terdaftar dan Diawasi Oleh OJK

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>