Presdir BCA Berbagi Bekal Masuk Dunia Kerja ke Mahasiswa UI

Senin, 10 Oktober 2016 08:45 WIB
Presdir BCA Berbagi Bekal Masuk Dunia Kerja ke Mahasiswa UI

Euforia setelah lulus kuliah sebaiknya diiringi pula dengan persiapan masuk ke dunia kerja. Sebab, bagi mahasiswa atau alumni, kemampuan akademis saja tidak cukup menjadi bekal. Kepada mahasiswa dan alumni baru Universitas Indonesia (UI), Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja berbagi pengetahuan mengenai dunia kerja yang tidak bisa didapat dari buku (textbook) saja.

Kadang, untuk mencapai karier yang dicita-citakan, seseorang harus melewati jalan yang berliku. Begitu pun Jahja.  Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia angkatan 1975 ini menceritakan pengalaman selama puluhan tahun bekerja dari perusahaan ke perusahaan. Setiap fase memberi banyak pelajaran yang mampu membuatnya berkembang.

Fase fresh graduate

Jahja berkata, saat baru saja lulus dari pendidikan tinggi, ambil kesempatan bekerja di perusahaan yang bisa memberi banyak pelajaran dan pengalaman. Jahja menyebut itu sebagai masa investasi. Pada masa ini, soal gaji masih bisa dinomorduakan.

Jahja pertama kali bekerja di perusahaan akuntan. Gajinya memang tak seberapa, tapi pengalamannya dari sana begitu kaya.

“Saya mengaudit banyak perusahaan dari berbagai industri. Dari situ saya bisa sedikit-sedikit pelajari macam-macam industri. Jadi, itulah masa investasi,” tutur Jahja saat menjadi pembicara Career Talk di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (1/10/2016).

Ia menekankan, pada fase ini, para fresh graduate atau lulusan baru, belum perlu mencita-citakan penghasilan  yang besar. Perusahaan tempat seseorang pertama kali bekerja harus memberi banyak pelajaran dan nilai tambah bagi si pekerja.

“Jadi jangan dari awal mencita-citakan income yang besar. Kunci utama adalah dari mana kita keluar. Itu yang kita pilih pertama,” ujar Jahja.

Fase ambil peluang baru

Ketika bekal ilmu dan kemampuan bekerja dari perusahaan pertama dirasa sudah cukup, seseorang boleh melihat dan mengambil peluang baru. Dalam fase ini, Jahja menceritakan pengalaman saat dirinya ditawari pekerjaan sebagai asisten manajer di perusahaan farmasi, Kalbe Farma. Tentu saja, bagi Jahja itu adalah tawaran yang menarik.

“Di perusahaan ini saya mengalami pengalaman menarik. Loncatan karier saya cukup cepat di sana. Selama 8 tahun bekerja di sana pun masuk banyak tawaran dari berbagai perusahaan. Tapi saya kurang cocok dengan kondisi yang ditawarkan sehingga saya memilih stay,” kata Jahja.

Saat berbagai peluang menghampiri, ada pula pilihan untuk tetap bertahan. Jahja saat itu memilih bertahan, mengapa? Menurutnya, saat berbagai peluang menghampiri, seseorang perlu memilih dengan cermat dengan mempertimbangkan prospek ke depannya.

Sebab, banyak peluang yang menjanjikan banyak keuntungan, seperti gaji atau jabatan lebih tinggi. Namun, itu semua belum tentu sesuai dengan prospek ke depan yang ingin dituju.

“Jadi ini yang dipelajari, kesempatan ke depannya (di perusahaan lain) tidak seperti yang di Kalbe. Jadi kalau ada tawaran jangan melihat benefit-nya saja, tapi dari prospek ke depannya juga,” tutur pria yang saat sempat menjabat sebagai Direktur Keuangan di Kalbe Farma.

Fase ambil risiko untuk tingkatkan karier

Karier di Kalbe Farma berjalan selama bertahun-tahun. Jahja pun beralih ke perusahaan lain, waktu itu Indomobil, dengan jabatan yang sama, yakni Direktur Keuangan.Ketika itu, Jahja berpikir kesempatan untuk menjadi orang nomor satu di kedua perusahaan tersebut sangat kecil, sebab dirinya tak memiliki latar belakang farmasi ataupun otomotif.

Saat berada di situasi seperti ini, seseorang boleh melirik jalan lainnya. Hal itu pun dilakukan Jahja. Ia menerima kesempatan selanjutnya, yakni di BCA. Bagi Jahja, kesempatan tersebut baik, sebab sesuai dengan latar belakangnya sebagai sarjana ekonomi. Sayangnya, ada risiko yang harus ia ambil saat menerima tawaran ini.

“Kesempatan selanjutnya ke BCA, tapi downgrade. Dari direktur keuangan, jadi wakil kepala divisi. Memang ini jadi pergumulan, tapi akhirnya saya coba,” ungkap Jahja.

Secara tingkatan karier memang menurun, namun Jahja melihat peluang yang baik di pekerjaan barunya. Belasan tahun menunggu kemungkinan naik tingkat, akhirnya Jahja diangkat menjadi Direktur BCA pada tahun 1999 dan menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur BCA di tahun 2011.

“Pelajarannya, jangan kita pupus. Tunjukkan performa, prestasi, kerja sama yang baik, dan tidak menolak pekerjaan,” pesan Jahja kepada mahasiswa dan alumni baru UI.

Tiga bekal utama

Terakhir, ia menyampaikan hal-hal apa saja yang harus dimiliki dan dikuasai seseorang saat memasuki dunia kerja. Pertama, perencanaan yang fleksibel. Menurut Jahja, perencanaan memang baik, tetapi harus mampu mengikuti perubahan yang ada.

“Orang boleh saja punya perencanaan sampai tiga atau lima tahun, tetapi jangan terpaku terus pada perencanaan awal, karena setiap bulan ada perubahan. Kita harus jadi speed boat besar yang bisa mengelak, kalau ada ombak bisa membelokkan arah,” tutur Jahja.

Kedua, kemampuan berorganisasi. Organisasi mengajarkan seseorang untuk bekerja dalam tim.

“IP tinggi tidak menjamin. Maka saya anjurkan Anda ikut ekstrakurikuler. Karena di dalam organisasi, Anda bisa dapat kemampuan untuk mendorong teman untuk bekerja,” kata ia.

Ketiga, pergaulan. Jahja berpesan, dalam dunia kerja, seseorang harus dapat bergaul dengan siapa saja. Alasannya, dalam pekerjaan, kerja tim itu penting sehingga dibutuhkan hubungan baik dengan semua rekan kerja.

Cara bergaul yang baik, menurut Jahja adalah dengan mendengar orang lain. “Anda berkewajiban memberi ide, tetapi juga harus mau mendengar ide rekan lainnya,” ujar ia.

Selain itu, kedekatan dengan atasan pun penting. “Caranya, tunjukkan prestasi Anda. Berikan solusi-solusi yang baik untuk pekerjaan Anda,” ucap Jahja.

BCA Senantiasa di Sisi Anda
(Berita BCA)
BCA Terdaftar dan Diawasi Oleh OJK

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>