Prediksi 2017: Ekonomi dan Bisnis Disetir Oleh Imajinasi Konsumen

Jumat, 28 Oktober 2016 08:52 WIB
Prediksi 2017: Ekonomi dan Bisnis Disetir Oleh Imajinasi Konsumen

Seperti pelaksanaan Indonesia Knowledge Forum (IKF) di tahun-tahun sebelumnya, BCA Learning Services selalu menyelipkan kelas untuk memberi pandangan soal ekonomi Indonesia di masa mendatang bagi para peserta. Tahun ini kelas tersebut kembali diisi oleh tokoh-tokoh yang berkompetensi di bidang ekonomi dan pemasaran.

Salah satunya adalah Yongky Susilo, Direktur Eksekutif The Nielsen Indonesia. Yongky, dalam sesi seminarnya, mengungkapkan beberapa fakta yang cukup menarik dari hasil riset The Nielsen mengenai gambaran ekonomi dan bisnis di Indonesia tahun 2017 hingga sepuluh tahun mendatang.

Tahun yang akan datang GDP (gross domestic product) diprediksi akan meningkat hingga 5,3 persen dengan pertumbuhan tertinggi di sektor teknologi informasi. Hal ini disebabkan oleh bertumbuhnya kelas menengah di Indonesia.

 “Satu lagi fakta menarik tahun 1990-an ekonomi Indonesia disetir oleh supplier, saat ini oleh pasar, di tahun 2017 dan tahun-tahun yang akan datang imajinasi konsumenlah yang akan banyak mempengaruhi perekonomian dan cara berbisnis di Indonesia,” kata Yongky di hadapan para peserta Indonesia Knowlegde Forum V hari kedua, Jumat (7/10/2016) lalu.

Kondisi tersebut disebabkan oleh pertumbuhan generasi milenial atau Gen Y yang perilaku konsumsinya membawa perubahan, sekaligus menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia. Indikasinya, kata Yongky, sudah terlihat saat ini.

Pria berkacamata tersebut mencontohkan dengan fenomena populernya layanan ojek online di kalangan konsumen. Ia menyebut fenomena tersebut terjadi karena penyedia layanan ojek online seperti Go-Jek, Grab Bike, dan Uber Motor berhasil mewujudkan imajinasi konsumen yang telah lama terpendam yaitu moda transportasi cepat, namun aman dan nyaman.

“Ojek online yang kemunculannya dipelopori oleh Go-Jek ini berhasil menjawab khayalan konsumen yang ingin naik ojek menerobos kemacetan Jakarta tapi mau nyaman. Helm bersih dan wangi, pengendara ojeknya pun rapi, tidak perlu tawar-menawar harga, terlebih lagi ojek bisa dipanggil lewat aplikasi,” jelasnya.

Selain itu di masa mendatang perilaku konsumen juga berubah. Konsumen yang sebagian besar dihuni oleh kelas menengah tidak lagi mencari produk dengan harga murah namun kualitas rendah, melainkan harga terjangkau namun kualitas premium. Atau istilahnya affordable premium product. Ini disebabkan oleh meningkatnya pendapatan kelas menengah. Selain itu, konsumsi juga tidak lagi untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar tetapi juga kebutuhan sekunder.

Oleh karena itu Yongky menyarankan kepada pengusaha ritel untuk meningkatkan branding dan kualitas produknya sedikit lebih tinggi. Ia tidak menyarankan pengusaha ritel menawarkan produk murah dengan kualitas pas-pasan.

Konsumen di masa mendatang juga lebih mengejar pengalaman dan kepraktisan. Produk yang mampu merangsang panca indera dan siap untuk dikonsumsi akan lebih propler. “Contoh nyatanya coba saja lihat toko-toko roti modern saat ini. BreadTalk misalnya, ketika mendekati gerainya indera konsumen sudah terstimulus. Aromanya roti, dapurnya dibuat terbuka sehingga mereka bisa lihat proses pembuatan roti yang akan mereka beli, roti dipajang dengan topping-topping menarik, ini semua experience,” jelasnya memberi gambaran kepada peserta.

Dengan meningkatnya konsumen Gen Y dan bertumbuhnya kelas menengah, pebisnis diharapkan mulai memanfaatkan teknologi informasi dan membangun brand yang kuat. Saat ini media konvensional sudah mulai ditinggalkan dan internet menjadi media yang efektif untuk berpromosi serta menempatkan produk di benak konsumen. “Jika ingin merebut hati konsumen yang sebagian besar adalah Gen Y, kuncinya pelajarilah internet. Selain itu buatlah produk-produk yang membuat impian mereka jadi kenyataan,” ujarnya.

BCA Senantiasa di Sisi Anda
(Berita BCA)
BCA Terdaftar dan Diawasi Oleh OJK

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>